SIWALIMA.id > Berita
Bentrok antar Desa Salarem dan Kalarkalar Pecah, Tiga Rumah Terbakar
Online | Sabtu, 13 Juni 2026 pukul 18:24 WIT

DOBO, Siwalima.id - Bentrok antar warga Desa Salarem dan Desa Kalarkalar kembali pecah, pasca perdamaian secara adat pada 11 Juni 2026 kemarin. 

Bentrok antar kedua desa ini kembali pecah pada, Jumat (12/6) malam, setalah kedua warga desa saling menyerang dari Dusun Marbali, Desa Wangel, Kecamatan Pulau-pulau Aru menuju kawasan sipur pantai kelurahan Siwa Lima. 

Tak lama kemudian, terjadi konsentrasi masa dari Desa Salarem di perempatan jalan raya pemda, tepatnya di kawasan Kantor Bupati Aru, yang hanya berjarak dari kawasan pemukiman kompleks Desa Kalarkalar. Namun, pihak kepolisian yang di back up personel TNI, berhasil menghalau dan membubarkan masa tersebut.

Pantauan Siwalima.id di lokasi bentrok, diketahui salah satu rumah milik warga Desa Kalarkalar yang juga mantan anggota DPRD Aru 4 periode, Hery Laelaem dibakar oleh massa dari Desa Salarem.

Berdasarkan video yang di miliki, terlihat sejumlah massa menerobos masuk dalam rumah tersebut dan membakar sejumlah perabot rumah seperti kursi dan lainnya.

Tak berhenti disitu, massa juga membakar satu kios BBM milik Hery Laelaem dan merusak satu unit sepeda motor. Aksi ini pun kembali diamankan personel gabungan dari TNI/Polri.

Pada, Sabtu (13/6) massa dari Desa Salarem kembali membakar dua unit rumah milik warga Desa Kalarkalar kawasan belakang Kantor Bupati Aru yakni, rumah mantan Camat Aru Selatan Utara, Masna Benamem (kebakaran ringan) sementara rumah pegawai RSUD Cenderawasih Dobo, Misran Benamem (terbakar habis).

Selain kedua rumah tersebut, tiga rumah juga di mengalami rusak (seluruh kaca jendela dipecahkan dan pintu) yakni, rumah milik, Kadis Pariwisata Aru, Semy Benamem, rumah mantan Kepsek SMA 1 PP Aru, Imran Laelaem dan Ateng Benamem.

Kondisi tersebut mengakibatkan sejumlah warga di kawasan tersebut memilih keluar/mengungsi ke keluarga di tempat lain (Desa Wangel, Kawasan sipur dan beberapa tempat lainnya dalam kota Dobo). 

Terkait dengan kejadian tersebut, sejumlah masyarakat dengan nada dan kata yang sama menyayangkan hal tersebut, karena baru dua hari penyelesaian damai secara adat di Mapolres Aru tidak dihargai oleh kedua belah pihak.

"Mereka sama sekali tidak menghargai adat mereka sendiri diatas tanah mereka sendiri,” tandas sejumlah warga.

Menurut warga, jika adat sudah tidak dihargai maupun penyelesaian secara hukum tidak di hargai, maka itu sama saja dengan injak-injak adatnya sendiri. 

Kapolres Aru, AKBP Albert Perwira Sihite ketika di konfirmasi Siwalima.id menjelaskan, awalnya ada laporan yang masuk bahwa, ada yang merusak rumah warga (pakFredy) di cabang empat dan yang bersangkutan berencana untuk membuat laporan polisi.

Namun, entah mengapa dari mana informasi terkait pengrusakan tersebut, terjadi konsentrasi massa di Dusun Marbali.

"Saya dan pak bupati ikut turun langsung di lokasi, dimana titik konsentrasi masa tersebut,” ucap kapolres.

Polres Aru di bantu anggota Koramil dan Lanal Aru diturunkan untuk mengamankan dan membubarkan konsentrasi masa di beberapa titik, salah satunya di cabang empat dan jalan raya pemda. Ketika massa dari Desa Salarem ini berhasil dipukul mundur, mereka langsung menuju rumah kediaman warga lainnta (Heri Laelaem) di kawasan kopi-kopi menuju perumahan rakyat.

Masa kemudian menerobos masuk rumah dan membakar beberapa kursi sofa di dalamnya, namun berhasil di padamkan oleh anggota. Selain aksi pembakaran ini, massa juga merensek ke kawasan belakang Kantor Bupati dan merusak beberapa rumah di kawasan tersebut.

“Menyikapi kejadian ini, saya menghimbau seluruh masyarakat terutama dari kedua desa tersebut untuk saling menahan diri, apa lagi baru dua hari kemarin di selesaikan secara adat oleh tua-tua adat sendiri,” tandas kapolres.

Kapolres menegaskan, pihaknya akan tetap melakukan swiping alat tajam, berupa busur pana di setiap rumah dan bila kedapatan akan di proses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menghilangkan segala bentuk alat tajam berupa busur pana dalam Kota Dobo yang bertujuan agar tetap terjaga kondisi kambtimas yang aman dan kondusif. 

Hingga berita ini di publiskan, terlihat puluhan anggota TNI/Polri tetap siaga di sejumlah titik yang di anggap rawan serta di batas kawasan pemukiman warga dari kedua desa tersebut.(S-11)

BERITA TERKAIT