SIWALIMA.id > Berita
BMKG Peringati Warga soal Ancaman Kebakaran Hutan
Daerah | Senin, 9 Februari 2026 pukul 13:34 WIT

AMBON, Siwalima.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon memperingati masyarakat terkait potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kebakaran hutan dan lahan berpotensi terjadi di Kota Ambon, Kabupaten Buru Selatan dan Seram Bagian Barat, serta sejumlah wilayah lainnya di Maluku.

Kepala BMKG Stasiun Pattimura Ambon, Kamari dalam rilisnya yang diterima Siwalima, Sabtu (7/2) menjelaskan, peringatan dini ini dikeluarkan berdasarkan sistem analisis peringatan Karhutla.

Kemari mengaku, berdasarkan menunjukkan tingkat potensi ke­mudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan-bahan ringan mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah.

Lanjutnya, tingkat kekeringan bahan-bahan ringan mudah terbakar (seperti humus permukaan, sampah dedaunan kering, alang-alang, dan bahan ringan lain) yang biasanya menutupi lantai hutan pada keda­laman 1-2 cm.

“Secara umum tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permu­kaan tanah di wilayah Maluku be­rada pada kategori Aman (Low) hi­ng­ga tidak mudah (Moderate),” jelasnya.

Dikatakan, Duff Moisture Code menunjukkan tingkat potensi kemu­dahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan or­ganik di lapisan menengah permu­kaan tanah dan bahan-bahan kayu ringan (ranting-ranting kecil, semak belukar berkayu) di permukaan tanah.

Mewakili tingkat kekeringan lapi­san tanah organik atau bahan ku­rang padat lain pada kedalaman 5-10 cm dan bahan-bahan kayu ringan (ranting-ranting kecil, semak belu­kar berkayu) di permukaan tanah untuk secara umum, tingkat kemu­dahan terbakar pada lapisan mene­ngah permukaan tanah di wilayah Maluku berada pada kategori Aman (Low) hingga tidak mudah (Moderate).

Namun, di sebagian wilayah Kota Ambon, Kabupaten Bursel dan SBB berada pada kategori mudah (High) hingga sangat mudah (Very High).

“Initial Spread Index menunjukkan tingkat kemudahan penyebaran api jika terjadi kebakaran hutan, kata­nya.

Ia menyebut nilai ISI meningkat secara eksponensial terhadap kece­patan angin nilai ISI menjadi 2x lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 km/jam (3.6 m/s).

“Penyebaran api yang sangat cepat akibat kecepatan angin yang tinggi dapat membentuk pola kepala api,” jelasnya

Untuk itu Pihaknya berharap mas­yarakat melihat perkembangan cua­ca dan kondisi lingkungan terkini, untuk menentukan potensi kebaka­ran hutan dan lahan di wilayah pengguna. “Kami sarankan untuk berkoor­dinasi dengan kementerian lembaga, dinas terkait setempat untuk pe­manfaatan lebih lanjut dari data /informasi yang disediakan,” pesa­nya.(S-27)

BERITA TERKAIT