AMBON, Siwalima.id - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon memperingati masyarakat terkait potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Kebakaran hutan dan lahan berpotensi terjadi di Kota Ambon, Kabupaten Buru Selatan dan Seram Bagian Barat, serta sejumlah wilayah lainnya di Maluku.
Kepala BMKG Stasiun Pattimura Ambon, Kamari dalam rilisnya yang diterima Siwalima, Sabtu (7/2) menjelaskan, peringatan dini ini dikeluarkan berdasarkan sistem analisis peringatan Karhutla.
Kemari mengaku, berdasarkan menunjukkan tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan-bahan ringan mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah.
Lanjutnya, tingkat kekeringan bahan-bahan ringan mudah terbakar (seperti humus permukaan, sampah dedaunan kering, alang-alang, dan bahan ringan lain) yang biasanya menutupi lantai hutan pada kedalaman 1-2 cm.
“Secara umum tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah di wilayah Maluku berada pada kategori Aman (Low) hingga tidak mudah (Moderate),” jelasnya.
Dikatakan, Duff Moisture Code menunjukkan tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran ditinjau dari parameter cuaca pada bahan organik di lapisan menengah permukaan tanah dan bahan-bahan kayu ringan (ranting-ranting kecil, semak belukar berkayu) di permukaan tanah.
Mewakili tingkat kekeringan lapisan tanah organik atau bahan kurang padat lain pada kedalaman 5-10 cm dan bahan-bahan kayu ringan (ranting-ranting kecil, semak belukar berkayu) di permukaan tanah untuk secara umum, tingkat kemudahan terbakar pada lapisan menengah permukaan tanah di wilayah Maluku berada pada kategori Aman (Low) hingga tidak mudah (Moderate).
Namun, di sebagian wilayah Kota Ambon, Kabupaten Bursel dan SBB berada pada kategori mudah (High) hingga sangat mudah (Very High).
“Initial Spread Index menunjukkan tingkat kemudahan penyebaran api jika terjadi kebakaran hutan, katanya.
Ia menyebut nilai ISI meningkat secara eksponensial terhadap kecepatan angin nilai ISI menjadi 2x lipat setiap kenaikan kecepatan angin sebesar 13 km/jam (3.6 m/s).
“Penyebaran api yang sangat cepat akibat kecepatan angin yang tinggi dapat membentuk pola kepala api,” jelasnya
Untuk itu Pihaknya berharap masyarakat melihat perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan terkini, untuk menentukan potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah pengguna. “Kami sarankan untuk berkoordinasi dengan kementerian lembaga, dinas terkait setempat untuk pemanfaatan lebih lanjut dari data /informasi yang disediakan,” pesanya.(S-27)