SIWALIMA.id > Berita
Cahaya Matahari dari Tanimbar, Kisah Terangnya Listrik dari PLTS Terpusat
Daerah | Kamis, 23 Oktober 2025 pukul 01:39 WIT

MATAHARI terbit di Kepulauan Tanimbar selalu menjadi pemandangan istimewa. Namun kini, di beberapa desa terpencil, kehadiran matahari membawa makna lebih dalam. Bukan hanya sekadar tanda pagi, melainkan sumber kehidupan baru yang benderang, berkat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun di tengah-tengah mereka.

Bagi warga Desa Lelingluan, Keca­ma­tan Tanimbar Utara, Kabupaten Ke­pulauan Tanimbar, Maluku, kena­ngan akan malam yang sunyi dan ge­­lap masih lekat. Listrik adalah ba­rang mewah yang hanya bisa dinik­mati 12 jam sehari. Setelah magrib, ak­­ti­vitas seolah terhenti. Belajar anak-anak mengandalkan lampu pe­lita, dan banyak pekerjaan tertunda hing­ga esok.

“Dulu, setelah jam sembilan ma­lam, semua sudah gelap. Anak-anak mau belajar susah,” kenang Ibu Yos Manu­tilaa, warga Lelingluan. “Kami hanya bisa berkumpul di teras ru­mah, bercerita sambil mendengarkan suara ombak. Tapi sekarang, cerita­nya sudah berbeda.” katanya lagi de­­ngan suara terharu.

Perubahan itu dimulai ketika Desa Le­lingluan ditetapkan sebagai pro­yek percontohan PLTS terpusat di Maluku. Awalnya, warga ragu. Ba­gai­­­mana mungkin panel-panel kaca hitam itu bisa memberikan listrik yang andal? Namun, keraguan itu perl­ahan sirna saat listrik mulai me­ngalir 24 jam penuh.

Desa Lelingluan kini menjadi saksi bisu kemajuan. Lampu-lampu jalan menyala di malam hari, rumah-rumah diterangi cahaya, dan suara televisi mengiringi obrolan keluarga. Anak-anak bisa belajar hingga larut malam tanpa khawatir, sementara para ibu bisa menggunakan kulkas untuk menyimpan hasil tangkapan laut mereka agar lebih awet.

“Kami sangat bangga. Sekarang desa kami terang benderang. Listrik membuat hidup kami lebih mudah,” ujar Bapak Petrus, seorang , di desa tersebut, yang kini bisa mengisi daya baterai perahu kapan saja. “Ini bukan hanya listrik, ini kemandirian. Kami tidak lagi tergantung pada minyak,.” katanya.

Listrik memungkinkan anak-anak belajar lebih lama di malam hari. Lam­pu yang terang menggantikan pen­e­rangan seadanya, sehingga kua­­li­tas belajar pun meningkat. Sekolah-sekolah juga bisa meng­gu­nakan perangkat elektronik yang menun­jang proses pembelajaran.

“Kami senang karena bisa belajar hingga malam hari,” Yani Famney, siswa SD Negeri Lelingluan.

“Terima kasih, kami sudah bisa menikmati lampu tanpa padam,” kata Yani lagi.

Kemandirian Energi di 3T

Kemandirian energi memang menjadi kata kunci di balik kehadiran PLTS ini. Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sebagai salah satu daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), kini punya cerita suksesnya sendiri. PLTS terpusat, seperti yang ada di Lelingluan, tidak hanya menerangi rumah tangga, tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi dan sosial.

Infrastruktur pendukung lainnya juga mulai maju. Sekolah dapat meng­gunakan komputer dan proyektor, puskesmas memiliki fasili­tas yang lebih baik untuk menyimpan obat-obatan, dan warung-warung kecil bisa menjual minuman dingin. Semua berkat sinar matahari yang diubah menjadi energi listrik.

Matahari Tanimbar kini tak hanya menyinari siang, tetapi juga menjadi sumber kehidupan di malam hari. Diawal tahun 2023, Desa Lelingluan, berkat uluran tangan Kementerian ESDM, kini PLTS berkapasitas 75 kWp berdiri kokoh menghadirkan senyum bagi 128 keluarga, membe­bas­kan mereka dari ketergantungan energi dan membawa cahaya keman­dirian di wilayah 3T Maluku.

“Walaupun hanya membayar 10 ribu rupiah per bulan, tapi kami ber­syukur Listrik sudah nyala 24 jam,” beber ibu Yos.

Di balik kapasitasnya yang masih di bawah 450 watt, setiap panel ada­lah cerita tentang akses yang selama ini sulit didapatkan. Setiap rumah kini tak lagi bergantung pada penera­ngan tradisional, melainkan dapat menikmati minimal tiga titik lampu.

Ini adalah cerita tentang perjua­ngan panjang untuk memastikan setiap sudut Kepulauan Maluku dapat menikmati terang. Mercy Ba­rends, Anggota DPR RI dapil Malu­ku yang berkomitmen penuh, menya­dari betul bahwa listrik bukan sekadar penerangan.

“Listrik menjadi pendorong ke­giatan perekonomian masyarakat serta dapat meningkatkan kualitas kehidupan,” ujarnya.

Ucapannya bukan hanya janji, melainkan sebuah visi yang kini mulai menjadi kenyataan, setahap demi setahap.

Sebelumnya, bagi banyak warga di sana, kegiatan ekonomi harus terhenti begitu malam tiba. Anak-anak kesulitan belajar, pedagang kecil tak bisa membuka lapak lebih lama, dan kreativitas masyarakat terbatasi oleh gelap. Peningkatan jam nyala listrik dari 12 menjadi 24 jam adalah sebuah revolusi kecil yang membawa perubahan besar. Ia membuka pintu bagi warung-warung untuk beroperasi hingga larut, nelayan bisa menyiapkan alat tangkap lebih matang, dan para ibu rumah tangga bisa lebih produktif di malam hari. Terang ini memberikan ruang bagi mimpi-mimpi baru untuk tumbuh.

Namun, pencapaian ini bukanlah tanpa tantangan. Mercy juga meng­ingatkan bahwa keberhasilan ini perlu dijaga bersama. “Masyara­kat un­tuk bersama menjaga aset ke­lis­trikan,” pesannya. Menjaga ke­ber­­­­si­han sekitar jaringan listrik ada­lah sa­­lah satu hal krusial. Ini bukan se­k­a­dar tugas pemerintah atau PLN, me­lainkan tanggung jawab kolektif untuk memastikan cahaya itu tak padam lagi. Ancaman gangguan ja­ri­ngan dan potensi bahaya listrik ada­lah pengingat bahwa keandalan mem­butuhkan partisipasi aktif dari semua pihak.

Kerja keras ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak.

Mercy tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada Kemen­terian ESDM, PT PLN Wilayah Ma­luku Maluku Utara, dan dukungan pemerintah daerah. “Dukungan pemda masing-masing untuk penyiapan tanah dan lainnya bagi instalasi listrik,” tuturnya. Ini menunjukkan bahwa di balik setiap ke­berhasilan, ada sinergi dan gotong royong yang menjadi fondasi.

Bagi wilayah-wilayah yang masih menanti, harapan itu tetap ada. Mercy menegaskan, “Kita terus bekerja keras memastikan listrik dapat dinikmati masyarakat di berbagai pelosok di Maluku,” katanya.

Komitmen ini adalah janji yang mengikat, sebuah tekad untuk menuntaskan pekerjaan hingga semua daerah terlayani. Ia adalah pengingat bahwa pembangunan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir

Keberhasilan PLTS di Tanimbar tidak hanya menjadi cerita lokal. Hal ini menjadi inspirasi bagi daerah lain, terutama di wilayah 3T. Kisah tentang bagaimana sinar matahari diubah menjadi harapan telah mem­buktikan bahwa kemajuan bisa menjangkau pelosok negeri.

Di Tanimbar, setiap kali matahari terbit, ada semangat baru yang mem­bara. Semangat untuk terus maju, be­lajar, dan berkarya. Cahaya yang datang dari langit kini menjadi cahaya yang membawa kebanggaan di setiap sudut rumah, di setiap senyum anak-anak, dan di setiap langkah masyarakat Ta­nim­bar menuju masa depan yang lebih cerah. (Fabiola Jolanda Koenoe, Jurnalis Harian Pagi Siwalima)

BERITA TERKAIT