MATAHARI terbit di Kepulauan Tanimbar selalu menjadi pemandangan istimewa. Namun kini, di beberapa desa terpencil, kehadiran matahari membawa makna lebih dalam. Bukan hanya sekadar tanda pagi, melainkan sumber kehidupan baru yang benderang, berkat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dibangun di tengah-tengah mereka.
Bagi warga Desa Lelingluan, KecaÂmaÂtan Tanimbar Utara, Kabupaten KeÂpulauan Tanimbar, Maluku, kenaÂngan akan malam yang sunyi dan geÂÂlap masih lekat. Listrik adalah baÂrang mewah yang hanya bisa dinikÂmati 12 jam sehari. Setelah magrib, akÂÂtiÂvitas seolah terhenti. Belajar anak-anak mengandalkan lampu peÂlita, dan banyak pekerjaan tertunda hingÂga esok.
“Dulu, setelah jam sembilan maÂlam, semua sudah gelap. Anak-anak mau belajar susah,” kenang Ibu Yos ManuÂtilaa, warga Lelingluan. “Kami hanya bisa berkumpul di teras ruÂmah, bercerita sambil mendengarkan suara ombak. Tapi sekarang, ceritaÂnya sudah berbeda.” katanya lagi deÂÂngan suara terharu.
Perubahan itu dimulai ketika Desa LeÂlingluan ditetapkan sebagai proÂyek percontohan PLTS terpusat di Maluku. Awalnya, warga ragu. BaÂgaiÂÂÂmana mungkin panel-panel kaca hitam itu bisa memberikan listrik yang andal? Namun, keraguan itu perlÂahan sirna saat listrik mulai meÂngalir 24 jam penuh.
Desa Lelingluan kini menjadi saksi bisu kemajuan. Lampu-lampu jalan menyala di malam hari, rumah-rumah diterangi cahaya, dan suara televisi mengiringi obrolan keluarga. Anak-anak bisa belajar hingga larut malam tanpa khawatir, sementara para ibu bisa menggunakan kulkas untuk menyimpan hasil tangkapan laut mereka agar lebih awet.
“Kami sangat bangga. Sekarang desa kami terang benderang. Listrik membuat hidup kami lebih mudah,” ujar Bapak Petrus, seorang , di desa tersebut, yang kini bisa mengisi daya baterai perahu kapan saja. “Ini bukan hanya listrik, ini kemandirian. Kami tidak lagi tergantung pada minyak,.” katanya.
Listrik memungkinkan anak-anak belajar lebih lama di malam hari. LamÂpu yang terang menggantikan penÂeÂrangan seadanya, sehingga kuaÂÂliÂtas belajar pun meningkat. Sekolah-sekolah juga bisa mengÂguÂnakan perangkat elektronik yang menunÂjang proses pembelajaran.
âKami senang karena bisa belajar hingga malam hari,â Yani Famney, siswa SD Negeri Lelingluan.
âTerima kasih, kami sudah bisa menikmati lampu tanpa padam,â kata Yani lagi.
Kemandirian Energi di 3T
Kemandirian energi memang menjadi kata kunci di balik kehadiran PLTS ini. Kabupaten Kepulauan Tanimbar, sebagai salah satu daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), kini punya cerita suksesnya sendiri. PLTS terpusat, seperti yang ada di Lelingluan, tidak hanya menerangi rumah tangga, tetapi juga mendukung kemandirian ekonomi dan sosial.
Infrastruktur pendukung lainnya juga mulai maju. Sekolah dapat mengÂgunakan komputer dan proyektor, puskesmas memiliki fasiliÂtas yang lebih baik untuk menyimpan obat-obatan, dan warung-warung kecil bisa menjual minuman dingin. Semua berkat sinar matahari yang diubah menjadi energi listrik.
Matahari Tanimbar kini tak hanya menyinari siang, tetapi juga menjadi sumber kehidupan di malam hari. Diawal tahun 2023, Desa Lelingluan, berkat uluran tangan Kementerian ESDM, kini PLTS berkapasitas 75 kWp berdiri kokoh menghadirkan senyum bagi 128 keluarga, membeÂbasÂkan mereka dari ketergantungan energi dan membawa cahaya kemanÂdirian di wilayah 3T Maluku.
âWalaupun hanya membayar 10 ribu rupiah per bulan, tapi kami berÂsyukur Listrik sudah nyala 24 jam,â beber ibu Yos.
Di balik kapasitasnya yang masih di bawah 450 watt, setiap panel adaÂlah cerita tentang akses yang selama ini sulit didapatkan. Setiap rumah kini tak lagi bergantung pada peneraÂngan tradisional, melainkan dapat menikmati minimal tiga titik lampu.
Ini adalah cerita tentang perjuaÂngan panjang untuk memastikan setiap sudut Kepulauan Maluku dapat menikmati terang. Mercy BaÂrends, Anggota DPR RI dapil MaluÂku yang berkomitmen penuh, menyaÂdari betul bahwa listrik bukan sekadar penerangan.
“Listrik menjadi pendorong keÂgiatan perekonomian masyarakat serta dapat meningkatkan kualitas kehidupan,” ujarnya.
Ucapannya bukan hanya janji, melainkan sebuah visi yang kini mulai menjadi kenyataan, setahap demi setahap.
Sebelumnya, bagi banyak warga di sana, kegiatan ekonomi harus terhenti begitu malam tiba. Anak-anak kesulitan belajar, pedagang kecil tak bisa membuka lapak lebih lama, dan kreativitas masyarakat terbatasi oleh gelap. Peningkatan jam nyala listrik dari 12 menjadi 24 jam adalah sebuah revolusi kecil yang membawa perubahan besar. Ia membuka pintu bagi warung-warung untuk beroperasi hingga larut, nelayan bisa menyiapkan alat tangkap lebih matang, dan para ibu rumah tangga bisa lebih produktif di malam hari. Terang ini memberikan ruang bagi mimpi-mimpi baru untuk tumbuh.
Namun, pencapaian ini bukanlah tanpa tantangan. Mercy juga mengÂingatkan bahwa keberhasilan ini perlu dijaga bersama. “MasyaraÂkat unÂtuk bersama menjaga aset keÂlisÂtrikan,” pesannya. Menjaga keÂberÂÂÂÂsiÂhan sekitar jaringan listrik adaÂlah saÂÂlah satu hal krusial. Ini bukan seÂkÂaÂdar tugas pemerintah atau PLN, meÂlainkan tanggung jawab kolektif untuk memastikan cahaya itu tak padam lagi. Ancaman gangguan jaÂriÂngan dan potensi bahaya listrik adaÂlah pengingat bahwa keandalan memÂbutuhkan partisipasi aktif dari semua pihak.
Kerja keras ini adalah hasil kolaborasi banyak pihak.
Mercy tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada KemenÂterian ESDM, PT PLN Wilayah MaÂluku Maluku Utara, dan dukungan pemerintah daerah. “Dukungan pemda masing-masing untuk penyiapan tanah dan lainnya bagi instalasi listrik,” tuturnya. Ini menunjukkan bahwa di balik setiap keÂberhasilan, ada sinergi dan gotong royong yang menjadi fondasi.
Bagi wilayah-wilayah yang masih menanti, harapan itu tetap ada. Mercy menegaskan, “Kita terus bekerja keras memastikan listrik dapat dinikmati masyarakat di berbagai pelosok di Maluku,” katanya.
Komitmen ini adalah janji yang mengikat, sebuah tekad untuk menuntaskan pekerjaan hingga semua daerah terlayani. Ia adalah pengingat bahwa pembangunan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir
Keberhasilan PLTS di Tanimbar tidak hanya menjadi cerita lokal. Hal ini menjadi inspirasi bagi daerah lain, terutama di wilayah 3T. Kisah tentang bagaimana sinar matahari diubah menjadi harapan telah memÂbuktikan bahwa kemajuan bisa menjangkau pelosok negeri.
Di Tanimbar, setiap kali matahari terbit, ada semangat baru yang memÂbara. Semangat untuk terus maju, beÂlajar, dan berkarya. Cahaya yang datang dari langit kini menjadi cahaya yang membawa kebanggaan di setiap sudut rumah, di setiap senyum anak-anak, dan di setiap langkah masyarakat TaÂnimÂbar menuju masa depan yang lebih cerah. (Fabiola Jolanda Koenoe, Jurnalis Harian Pagi Siwalima)