SIWALIMA.id > Berita
Dewan Temukan Proyek Jalan di KKT dan Malteng tak Sesuai Volume
Daerah | Kamis, 5 Maret 2026 pukul 13:29 WIT

 

AMBON, Siwalima.id - DPRD Maluku menemukan sejumlah persoalan serius pada proyek pembangunan jalan yang dikerjakan BPJN Maluku di Kabupaten Tanimbar dan Maluku Tengah dalam agenda pengawa­san tahap pertama.

Temuan tersebut berkaitan dengan ketidaksesuaian antara volume pekerjaan di lapangan dan anggaran yang telah dialokasikan.

Di Kabupaten Tanimbar, ditemu­kan adanya selisih panjang jalan, antara dokumen anggaran dan realisasi fisik di lapangan. 

Berdasarkan pagu anggaran, proyek tersebut ditargetkan se­pan­jang 2,8 kilometer, Namun se­telah dilakukan pengukuran lang­sung, panjang jalan yang tereali­sasi hanya sekitar 2,7 kilometer.

“Kalau dalam dokumen tertulis 2,8 kilometer, maka di lapangan juga harus 2,8 kilometer. Tidak boleh kurang. Ini yang akan kami dalami,” beber Ketua Komisi III DPRD Maluku, Alhidayat Wajo kepada wartawan di Baileo Rakyat Karang Panjang, Rabu (4/3).

Selisih tersebut menurut Wajo, dinilai tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut akuntabilitas penggunaan anggaran dan kualitas perencanaan teknis.

Sementara di Kabupaten Malu­ku Tengah, komisi menyoroti progres pekerjaan Jalan Saleman - Besi yang dinilai belum maksimal, dimana dari total rencana panjang sekitar 1.400 meter, pekerjaan yang baru terea­lisasi di lapangan sekitar 400 meter.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, karena proyek tersebut menyangkut akses masyarakat serta konektivitas antar wilayah.

“Kalau perencanaannya 1.400 me­ter, maka harus jelas kenapa baru 400 meter yang dikerjakan. Apakah karena tahapan anggaran atau ada kendala teknis. Ini akan kami minta penjelasan resmi dari BPJN,” tandas Wajo.

Menyikapi hal tersebut, maka Komisi III memastikan seluruh temuan ini akan dibahas dalam rapat evaluasi bersama OPD teknis terkait pada pekan depan. Evaluasi akan mencakup kesesuaian volume pe­kerjaan, realisasi fisik, serta pertan­gungjawaban anggaran.

Pengawasan akan terus dilakukan hingga seluruh kabupaten/kota sele­sai dikunjungi. Pasalnya, setiap pro­yek infrastruktur harus meme­nuhi prinsip transparansi dan akuntabi­litas, terutama karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

“Panjang jalan, volume pekerjaan, hingga kualitasnya harus sesuai kontrak. Ini menyangkut uang rakyat dan kepentingan masyarakat luas,” tegas Wajo.(S-26)

BERITA TERKAIT