TIAKUR, Siwalima.id - Enam desa yang diusulkan Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya menjadi desa nelayan masuk tahapan survei dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Ketua Tim survey Kementerian KP, Rani Hafsaridewi dalam rilis yang diterima Siwalima, Rabu (3/6) menjelaskan survey dilakukan untuk menilai potensi perikanan dan kesiapan desa-desa yang diusulkan sebagai calon lokasi program tersebut.
Dalam kunjungan di Desa Nusiata, Kecamatan Wetang, Sabtu (30/5) kemarin tim yang didampingi camat dan kades Nusiata.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses identifikasi dan penilaian terhadap desa-desa yang diusulkan dalam program KNMP.
“Survei ini bertujuan memperoleh gambaran kondisi desa, potensi perikanan, serta kesiapan masyarakat dalam mendukung program. Hasilnya akan menjadi bahan kajian dan rekomendasi dalam proses penetapan lokasi,” terang Rani dalam rilisnya.
Selama kunjungan, tim melakukan observasi lapangan serta berdialog dengan pemerintah desa, nelayan, kelompok masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengumpulkan data sosial ekonomi, aktivitas perikanan, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung.
“Bagi desa-desa lain yang telah diusulkan, saat ini masih menunggu arahan dan tahapan selanjutnya sesuai target yang telah ditetapkan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan, Herdy M. Ubro, menjelaskan Pemkab MBD mengusulkan enam desa sebagai calon penerima program kampung nelayan Merah Putih, yakni Desa Ustutun, Desa Lebelau, Desa Solath, Desa Nusiata, Desa Ahanari dan Desa Ilmarang.
Menurut ubro, usulan tersebut didasarkan pada potensi sumber daya perikanan, keberadaan komunitas nelayan yang aktif, serta kebutuhan pengembangan sarana dan prasarana pendukung sektor perikanan.
Saat ini tim survei melakukan verifikasi di tiga lokasi, yakni Desa Lebelau di Kecamatan Kisar Selatan, Desa Nusiata di Kecamatan Wetang dan Desa Ahanari di Kecamatan Babar Timur.
“Hasil survei ini akan menjadi dasar penilaian dalam proses penetapan lokasi Program KNMP,” jelasnya.
Desa Ustutun lanjutnya akan menjadi lokasi survei berikutnya. Penjadwalan survei di wilayah tersebut disesuaikan dengan kondisi transportasi menuju Pulau Wetar serta keterbatasan jumlah personel tim survei yang bertugas di Kabupaten MBD, yang hanya terdiri dari dua orang.
Ia menambahkan, pada tahun 2025 tim survei KNMP telah melakukan survei di dua lokasi yakni Dusun Siota, Desa Klis, Kecamatan Moa dan Desa Nuwewang, Kecamatan Letti.
“Kedua lokasi tersebut telah melalui seluruh tahapan penilaian dan saat ini berada pada proses akhir,” urainya.
Untuk itu dirinya berharap desa-desa yang diusulkan dapat memenuhi kriteria yang ditetapkan sehingga memperoleh dukungan melalui program kampung nelayan.
”Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas nelayan, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, serta mendorong pembangunan kawasan perikanan yang berkelanjutan di MBD,” ungkapnya.
Hasil survei lapangan selanjutnya akan dianalisis sebagai bagian dari proses evaluasi dan penetapan lokasi penerima program kampung nelayan.(S-28)