AMBON, Siwalima.id - Universitas Pattimura menggelar kuliah umum dengan menghadirkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Kependudukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin prof Madris.
Kuliah umum ini dilaksanakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan tema “Paradoks Pengangguran di Indonesia” di Gedung FEB Unpatti, Ambon, Senin (22/6).
Ratusan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FEB Unpatti mengikuti kegiatan tersebut bersama dosen, pimpinan fakultas, dan sejumlah undangan.
Kehadiran akademisi nasional itu diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai persoalan ketenagakerjaan yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
Dekan FEB Unpatti, Tedy C Leasiwal, mengatakan kuliah umum tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami persoalan kependudukan dan ketenagakerjaan secara lebih mendalam.
“Ini merupakan kesempatan besar bagi mahasiswa untuk belajar langsung mengenai persoalan kependudukan dan ketenagakerjaan. Saya berharap kuliah umum ini dimanfaatkan sebaik mungkin dengan berdiskusi dan bertanya secara aktif kepada narasumber,” ujar Tedy.
Menurutnya, FEB Unpatti terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan program studi, rencana pembukaan program pascasarjana dan program vokasi, serta persiapan kelas internasional.
Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan seiring dengan kemampuan lulusan untuk memasuki dunia kerja.
Tedy menambahkan, persoalan pengangguran tidak hanya menjadi tantangan di daerah berkembang seperti Maluku, tetapi juga menjadi persoalan global yang dihadapi banyak negara.
“Pengangguran merupakan beban bagi pemerintah karena berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Tingkat pengangguran terbuka yang masih cukup tinggi tentu mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, dalam paparannya, Prof Madris menjelaskan pengangguran merupakan kondisi ketika seseorang sedang mencari pekerjaan, tetapi belum memperoleh pekerjaan yang diinginkan.
Menurut dia, tidak semua orang yang tidak bekerja dapat dikategorikan sebagai pengangguran karena terdapat konsep dan indikator tertentu yang digunakan untuk mengukurnya.
“Orang yang menganggur adalah orang yang mencari pekerjaan tetapi belum mendapatkan pekerjaan. Jadi tidak semua orang yang tidak bekerja otomatis disebut pengangguran,” ujarnya.
Ia menilai paradoks pengangguran di Indonesia muncul ketika peningkatan jumlah lulusan pendidikan tidak diikuti dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka.
Di sisi lain, dunia usaha dan industri membutuhkan keterampilan yang kerap berbeda dengan kompetensi yang dihasilkan lembaga pendidikan.
Madris mengatakan, persoalan utama bukan hanya terletak pada jumlah lapangan kerja, melainkan pada upaya mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi lulusan.
“Kurikulum pendidikan harus lebih selaras dengan kebutuhan dunia usaha agar lulusan tidak kesulitan memasuki pasar kerja,” katanya.
Ia juga menyoroti kecenderungan lulusan perguruan tinggi yang memiliki ekspektasi lebih tinggi terhadap pendapatan dan jenis pekerjaan.
Kondisi tersebut membuat sebagian lulusan memilih menunggu pekerjaan yang dianggap sesuai dibanding menerima pekerjaan dengan penghasilan lebih rendah, sehingga angka pengangguran pada kelompok terdidik cenderung meningkat.(S-25)