SIWALIMA.id > Berita
Kuliah Umum Unpatti Hadirkan Prof Madris
Pendidikan | Selasa, 23 Juni 2026 pukul 14:22 WIT

AMBON, Siwalima.id - Universitas Pattimura menggelar kuliah umum dengan menghadirkan Guru Besar Ilmu Ekonomi Kepen­dudukan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin prof Madris.

Kuliah umum ini dilaksanakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dengan tema “Paradoks Pe­ngangguran di Indonesia” di Ge­dung FEB Unpatti, Ambon, Senin (22/6).

Ratusan mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FEB Unpatti mengikuti kegiatan tersebut bersama dosen, pimpinan fakultas, dan sejumlah undangan.

Kehadiran akademisi nasional itu diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai per­soalan ketenagakerjaan yang masih menjadi tantangan di Indonesia.

Dekan FEB Unpatti, Tedy C Leasi­wal, mengatakan kuliah umum ter­sebut menjadi kesempatan bagi ma­hasiswa untuk memahami persoalan kependudukan dan ketenagakerjaan secara lebih mendalam.

“Ini merupakan kesempatan besar bagi mahasiswa untuk belajar lang­sung mengenai persoalan kependu­dukan dan ketenagakerjaan. Saya ber­harap kuliah umum ini diman­faatkan sebaik mungkin dengan berdiskusi dan bertanya secara aktif kepada narasumber,” ujar Tedy.

Menurutnya, FEB Unpatti terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan program studi, rencana pembukaan program pascasarjana dan program vokasi, serta persiapan kelas inter­nasional.

Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan seiring dengan kemampuan lulusan untuk memasuki dunia kerja.

Tedy menambahkan, persoalan pengangguran tidak hanya menjadi tantangan di daerah berkembang seperti Maluku, tetapi juga menjadi persoalan global yang dihadapi banyak negara.

“Pengangguran merupakan be­ban bagi pemerintah karena ber­dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Tingkat peng­angguran terbuka yang masih cukup tinggi tentu mempengaruhi pertum­buhan ekonomi daerah dan kese­jahteraan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, dalam paparannya, Prof Madris menjelaskan pengang­guran merupakan kondisi ketika se­seorang sedang mencari pekerjaan, tetapi belum memperoleh pekerjaan yang diinginkan.

Menurut dia, tidak semua orang yang tidak bekerja dapat dikate­gori­kan sebagai pengangguran karena terdapat konsep dan indikator ter­tentu yang digunakan untuk mengukurnya.

“Orang yang menganggur adalah orang yang mencari pekerjaan tetapi belum mendapatkan pekerjaan. Jadi tidak semua orang yang tidak be­kerja otomatis disebut pengangguran,” ujarnya.

Ia menilai paradoks pengangguran di Indonesia muncul ketika pe­ningkatan jumlah lulusan pendi­dikan tidak diikuti dengan terse­dianya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka.

Di sisi lain, dunia usaha dan in­dustri membutuhkan keterampilan yang kerap berbeda dengan kompe­tensi yang dihasilkan lembaga pendidikan.

Madris mengatakan, persoalan utama bukan hanya terletak pada jumlah lapangan kerja, melainkan pada upaya mempertemukan kebu­tuhan industri dengan kompetensi lulusan.

“Kurikulum pendidikan harus le­bih selaras dengan kebutuhan dunia usaha agar lulusan tidak kesulitan memasuki pasar kerja,” katanya.

Ia juga menyoroti kecenderungan lulusan perguruan tinggi yang me­miliki ekspektasi lebih tinggi terha­dap pendapatan dan jenis pekerjaan.

Kondisi tersebut membuat seba­gian lulusan memilih menunggu pe­kerjaan yang dianggap sesuai diban­ding menerima pekerjaan dengan penghasilan lebih rendah, sehingga angka pengangguran pada kelom­pok terdidik cenderung meningkat.(S-25)

BERITA TERKAIT