PIRU, Siwalimanews –Â Ratusan guru honorer Madrasah melakukan unÂjuk rasa ke Kantor KemenÂterian Agama Kabupaten Seram Bagian Barat, KaÂmis (25/9) mempertanyaÂkan nasib mereka yang bertahun-tahun mengabdi namun tidak ikut seleksi Pegawai Pemerintah deÂngan Perjanjian Kerja (PPPK).
Pantauan Siwalima, keÂhaÂdiran para ratusan pegaÂwai honorer mendatangi Kantor Kantor Agama SBB sekitar pukul 11.20 WIT untuk menyampaikan aspiÂrasi, terkait nasib mereka yang belum terakomodir dalam seleksi Pegawai PemerinÂtah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Kordinator aksi, La Dakan saat menyampaikan orasinya meneÂgasÂkan banyak guru honorer di sekolah Madrasah swasta telah mengabdi puluhan tahun di SBB, namun tetap tidak bisa terakomodir hanya karena status mereka sebagai tenaga pengajar swasta.
âKami pegawai honorer sekolah swasta di SBB sangat mengÂhaÂrapkan agar bisa diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu seperti Honorer di Pemkab SBB. Masa di Pemkab bisa kami tidak bisa,â tuturnya.
Menurutnya, selaku pegawai honoÂrer swasta mereka sudah mengabdi hingga puluhan tahun, tetapi belum ada titik terang terhaÂdap mereka. Untuk itu, para honoÂrer ini mengharapkan agar KakenÂmenag SBB untuk mencari solusi agar ratusan honorer swasta ini bisa diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu.
Dalam aksi tersebut, para penÂdemo mendesak Kepala KakenÂmeÂnag SBB Jafar Tuny untuk hadir dan mendengar langsung keluhan mereka. Meski sempat menunggu cukup lama karena Kepala Kakenmenang sedang mengikuti agenda dinas di Kairatu.
Sebelum itu, masa sempat diteÂrima oleh Kepala Seksi Bimas Islam, M. Iksan Narahubun. Namun, para guru tetap bersikeras agar asÂpirasi mereka didengar langsung oleh Kepala Kakenmenag sendiri.
Selang waktu kemudian, Kepala Kakenmenag tiba dan langsung melakukan pertemuan dengan ratusan pegawai honorer swasta.
Dalam pertemuan tersebut, Jafar Tuny menyampaikan, dirinya saÂngat apresiasi atas perjuangan para guru honorer madrasah swasta.
Tuny menegaskan bahwa, atas aksi yang disampaikan ratusan guru honorer swasta tersebut, pihaknya akan siap mengawal aspirasi mereka. Meski semua keputusan berada di Pemerintah Pusat dan Kemenpan RB.
âKami akan berusaha mengawal aspirasi ini sesuai prosedur. Namun, keputusan akhir tetap berada di Pemerintah Pusat. Sebab itu, saya sarankan aspirasi ini juga disampaikan ke DPRD agar bisa dikawal hingga ke tingkat pusat,â jelasnya.
Tuny juga berpesan, agar seÂmaÂngat para guru honorer tidak paÂdam. âSaya sangat mengapresiasi perjuangan hari ini. Semangat ini harus terus dijaga agar suara baÂpak dan ibu bisa didengar pemeÂrintah,â pungkasnya. (S-18)