SIWALIMA.id > Berita
PLTP 20 MW akan Dibangun di Kabupaten Buru
Online | Rabu, 29 Oktober 2025 pukul 17:32 WIT

NAMLEA, Siwalima.id – Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) 20 mega waat direncanakan akan dibangun oleh PT Wapsalit Geothermal Power di Desa Wapsalit, Kecamatan Lolongquba, Kabupaten Buru. 

Rencana itu disampaikan dalam sosialisasi ekplorasi dan eksploitasi proyek pembangunan PLTP 20 MW, yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Namlea, Rabu (29/10).

Gubernur Maluku yang diwakili Asisten I Setda Maluku Djalaludin Salampessy pada kesempatan itu mengatakan, pembangunan PLTP 20 MW di Wapsalit sebentara lagi akan terwujud. 

Untuk itu, masyarakat harus dapat menerima proyek strategis nasional ini, demi kebaikan hari ini dan masa depan generasi berikutnya, dengan pemanfaatan energi terbarukan panas bumi untuk pembangkit listrik. 

Untuk itu, kepada para pimpinan OPD, para camat, tokoh masyarakat, tokoh adat, OKP yang hadir dalam sosialisasi itu, diharapkan agar dapat meneruskan sosialisasi proyek PLTP ini sampai ke masyarakat di lapisan yang paling bawah. 

“Pak gubernur menitipkan kepada kita semua jaga sistim, dari sistim birokrasi, adat istiadat dan dinamika sosial kemasyarakatan, sehingga semua memiliki manfaat. Kalau sedikit terganggu, maka akan bisa memberikan dampak buruk terhadap keberlanjutan dari proyek ini,” ucap Salampessy mengutip pesan gubernur.

Ditempat yang sama Presiden Direktur PT WGP Remi Hariamanda menjelaskan, pada kegiatan eksplorasi tahun 2023 lalu, PT WGP telah melakukan penggalian dua sumur bor sedalam 2000 meter dari permukaan tanah dan ditemukan potensial energi panas bumi untuk  pembangkit listrik berdaya 40 MW. 

Hasil eksplorasi itu, telah dilaporkan ke Kementrian ESDM tahun 2024 lalu. Potensi panas bumi itu juga telah dilelang oleh negara di bulan Maret 2025 dan  PT WGP ditunjuk sebagai pemenang. 

Ia juga menyentil  induk perusahan ORMAT yang berdiri sejak tahun 1965 lalu berkedudukan di Rino, Nevada, Amerika yang khusus bergerak di bidang pembangkit listrik energi panas bumi yang telah beroperasi di banyak negara, termasuk di Amerika, Afrika, hingga Australia dan Indonesia. 

"Di Indonesia, kita ada di Sarulang, Sumatera Utara, kemudian di Jawa Timur, kemarin sudah beroperasi. Kita sekarang ada tiga konsesi lagi di Indonesia, di Wapsalit Pulau Buru, kemudian di Bitung, Sulawesi Utara, satu lagi di Sulawesi Selatan,” jelas Remi.

Ia optimis, tiga konsesi baru di Indonesia ini, akan berjalan lancar untuk penyediaan listrik di tanah air, dan Pulau Buru khususnya dari energi panas bumi Wapsalit. 

Teknologi yang  dipakai PT WGP adalah, teklonogi energi panas bumi dan teknologi yang terbilang baru di Indonesia, dengan memanfaatkan air panas bumi yang temperaturnya dibawa 200 derajat celsius. 

"Kalau temperatur  150 derejat celcius saja masih bisa diubah menjadi energi listrik. Kami sudah punya pengalaman panjang, hampir 3000 MW kita bangun di berbagai negara,” ucap Remi. 

Remi juga menyinggung keinginan Mentri ESDM Bahlil Lahadia, yang mengharapkan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini rampung sebelum tahun 2029.

Nantinya, PLTP ini akan dibeli oleh PT PLN sebesar 20 MW untuk menyuplai seluruh kebutuhan pelanggan perusahan milik negara itu. 

"Ini amanat pak Mentri ESDM, bahwa PLN akan beli 20 MW,” jelas Remi. 

Awalnya pihak PT PLN berkeberatan membeli listrik sebesar 20 MW, sebab kebutuhan pelanggan di Pulau Buru masih di kisaran 10 MW.  Akhirnya PT WGP melakukan studi secara internal kebutuhan kelistrikan di Pulau Buru, meliputi Kabupaten Buru dan Kabupaten Buru Selatan.

Hasil studi, PT PLN dengan memakai PLTD, biayanya yang dikeluarkan PT PLN se-Pulau Buru mencapai Rp500 miliar/tahun. Namun jika PLN menggunakan PLTP 20 MW, biaya per tahunnya hanya Rp250 miliar.

"Artinya dari kepentingan negara sudah safety setengahnya Rp250 miliar. Manfaat ini yang kami dorong ke pak mentri dan beliau oke sebelum turun jabatan proyek ini selesai. Ini amanat dari pak Mentri,” tandas Remi. 

Remi juga mengungkap, pembiayaan ekploitasi dan pembangunan PLTP oleh PT WGP selama 35 tahun, tanpa menyebut besaran investasi tersebut, Remi juga paparkan, kalau seluruh pembiayaan melalui anak BUMN di bawah Kementrian Keuangan, PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang bekerjasama dengan bank dunia. 

"Mungkin ini pembiayaan proyek dari bank dunia yang pertama di Indonesia . Mudah-mudahan terealisasi,” harap Remi.(S-15)

BERITA TERKAIT