SIWALIMA.id > Berita
Putri Maluku Suarakan Masa Depan Biofarmasi Indonesia
Daerah | Kamis, 12 Maret 2026 pukul 14:44 WIT

AMBON, Siwalima.id - Dari Maluku menuju panggung forum internasional di Tiongkok, Yoan Clara Teken kembali membawa suara Indonesia dalam diskusi global mengenai masa depan industri kesehatan dan bioteknologi.

Praktisi kesehatan dan bioteknologi ini tampil sebagai salah satu pembicara dalam Forum Bisnis Internasional, yang digelar di Nicolo Changsha, Selasa (10/3), yang mempertemukan pelaku industri, investor, serta pemangku kebijakan dari Indonesia dan Tiongkok.

Forum Bisnis Internasional ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing di bawah kepemimpinan Djauhari Oratmangun, Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia.

Sesi diskusi yang menghadirkan Bapak Rustam Effendi, Jarot Setyawan, Clara dimoderatori oleh Irene, Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok.

Dalam forum tersebut, Clara yang menjabat sebagai penanggung jawab Medical Stakeholder Relation di Etana Biotechnologies Indonesia menyoroti perkembangan industri kesehatan di Indonesia sekaligus peluang besar pengembangan biofarmasi nasional melalui kolaborasi global.

Menurutnya, Indonesia saat ini sedang berada pada momentum penting dalam transformasi sistem kesehatan. Dengan populasi lebih dari 279 juta jiwa, kebutuhan terha­-dap terapi inovatif terus meningkat, terutama untuk menangani penya-kit tidak menular seperti kanker, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan gangguan ginjal.

Namun di sisi lain, penetrasi obat biologis di Indonesia masih relatif rendah, berada pada kisaran 6–7 persen. Hal ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang sangat besar bagi industri biofarmasi nasional.

“Indonesia merupakan salah satu pasar kesehatan dengan pertumbuhan paling dinamis di kawasan Asia. Kebutuhan terhadap terapi inovatif terus meningkat, dan ini membuka peluang besar bagi pengemba­ngan industri biofarmasi,” ujar  Clara, dalam release yang diterima Siwalima, Rabu (11/3).

Ia menambahkan, kemitraan internasional akan menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan ekosistem bioteknologi di Indonesia, mulai dari transfer teknologi, penelitian bersama, hingga pengembangan fasilitas produksi.

“Tiongkok memiliki kemajuan yang sangat pesat dalam inovasi bioteknologi. Dengan menggabungkan kekuatan inovasi tersebut dengan potensi pasar Indonesia yang besar, kita dapat membangun ekosistem biofarmasi yang lebih kuat dan berkelanjutan,” katanya.

Kehadiran Clara dalam forum tersebut juga mencerminkan perjalanan seorang profesional asal Maluku yang secara konsis­ten menyuarakan isu kesehatan di berbagai platform, baik nasional maupun internasional.

Selain berkiprah di industri bioteknologi, ia juga dikenal sebagai 5th Runner-Up ajang Puteri Indonesia 2020, yang aktif mengangkat berbagai isu kesehatan masyarakat, termasuk edukasi nutrisi, pencegahan stunting, serta peningkatan literasi kesehatan di masyarakat.

Melalui berbagai kegiatan edukasi, forum diskusi, hingga kolaborasi dengan berbagai institusi kesehatan, Dr. Clara terus mendorong pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan sebagai fondasi pembangunan bangsa.

“Ketika kita berbicara tentang inovasi kesehatan, yang kita perjuangkan sebenarnya adalah masa depan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap, kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok di sektor kesehatan dan bioteknologi dapat terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan akses terhadap terapi inovatif di Indonesia.

“Indonesia memiliki potensi besar, baik dari sisi pasar, talenta, maupun dukungan kebijakan. Dengan kemitraan global yang tepat, kita memiliki peluang besar untuk membangun industri biofarmasi yang kuat sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutupnya.(S-08)

BERITA TERKAIT