AMBON, Siwalima.id - Ketua DPD Walubi Maluku, Wilhelmus Jauwerissa, menyayangkan tindakan penggembokan gerbang Vihara Swarna Giri Tirta di Gunung Nona, Selasa (24/2) malam.
Hal itu menyebabkan dirinya bersama dengan umat Buddha yang lain batal untuk beribadah di vihara tersebut.
“Kami datang untuk beribadah, tetapi gerbang Vihara dikunci. Ini bentuk pelarangan orang beribadah. Apa kewenangan mereka menutup vihara?” kata Wilhelmus kepada wartawan di lokasi kejadian.
Ia menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelarangan umat dalam menjalankan ibadah. Terlebih lagi, gerbang vihara disebut dalam kondisi terkunci saat umat hendak masuk untuk beribadah.
Atas kejadian itu, ia telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Nusaniwe. Namun aparat menilai persoalan tersebut sebagai masalah internal.
Ia mengakui adanya perbedaan aliran di antara umat Buddha yang terlibat dalam konflik tersebut.
Menurutnya Permabudi menganut aliran Theravada, yang menurutnya memiliki perbedaan pandangan dengan Walubi dalam hal keyakinan dan praktik keagamaan.
Meski demikian, ia menegaskan perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghalangi umat menjalankan ibadah.
Terkait kepemilikan yayasan dan aset vihara, Wilhelmus menyatakan bahwa pihaknya telah memenangkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Dengan demikian, ia menegaskan yayasan beserta seluruh asetnya tetap sah menjadi milik Yayasan Suara Giri Tirta.
Meski pintu vihara terkunci, umat Buddha tetap melaksanakan ibadah di luar area vihara sekitar pukul 23.32 WIT. Ibadah berlangsung aman dan penuh khidmat.
Pinantoan tak tahu
Sementara itu Ketua Permabudi, Alin Tjoa Pinantoan, membantah tudingan terkait tindakan penggembokan gerbang Vihara Swarna Giri Tirta, kawasan Gunung Nona, Ambon, Selasa (24/2) malam.
“Saya saja tidak tahu dan pintunya tidak pernah ditutup. Setahu saya, Vihara itu buka jam 07:00 pagi sampai jam 18:00 sore,” katanya ketika dikonfirmasi Siwalima, Rabu (25/2).
Ia mempertanyakan waktu pelaksanaan ibadah yang dilakukan oleh Wilhelmus Jauwerissa dan umat yang lain pada malam hari.
Menurutnya, jika kegiatan dilakukan di luar jam operasional, maka wajar Vihara sudah ditutup.
“Mereka berdoa kapan? Tadi malam mereka berdoa. Kalau sudah jam begitu kan memang tutup, bukan jam ibadah lagi, makanya ditutup. Kalau ada sembahyang malam, saya tidak tahu. Bagaimana saya suruh kunci? Saya tidak tahu sama sekali, saya tidak tahu apa-apa,” tegasnya.
Dirinya juga mengaku tidak pernah memberikan perintah untuk mengunci gerbang maupun menghalangi umat Buddha menjalankan ibadah.
Ia juga mengatakan tidak mengetahui adanya kegiatan ibadah pada malam tersebut.
Pernyataan ini sekaligus membantah tudingan sebelumnya yang menyebut dirinya terlibat dalam penggembokan gerbang Vihara saat umat hendak melaksanakan ibadah tahunan.(Mg-1)