SIWALIMA.id > Berita
Vihara Digembok, Ketua Permabudi Pastikan tak Tahu
Daerah | Kamis, 26 Februari 2026 pukul 10:53 WIT

AMBON, Siwalima.id - Ketua DPD Walubi Maluku, Wil­helmus Jauwerissa, menyayangkan tindakan penggembokan gerbang Vihara Swarna Giri Tirta di Gunung Nona, Selasa (24/2) malam.

Hal itu menyebabkan dirinya ber­sama dengan umat Buddha yang lain batal untuk beribadah di vihara tersebut.

“Kami datang untuk beribadah, tetapi gerbang Vihara dikunci. Ini bentuk pelarangan orang beribadah. Apa kewenangan mereka menutup vihara?” kata Wilhelmus kepada wartawan di lokasi kejadian.

Ia menilai tindakan tersebut se­bagai bentuk pelarangan umat da­lam menjalankan ibadah. Terlebih lagi, gerbang vihara disebut dalam kondisi terkunci saat umat hendak masuk untuk beribadah.

Atas kejadian itu, ia telah mela­porkan peristiwa tersebut ke Polsek Nusaniwe. Namun aparat menilai persoalan tersebut sebagai masalah internal.

Ia mengakui adanya perbedaan aliran di antara umat Buddha yang terlibat dalam konflik tersebut.

Menurutnya Permabudi menga­nut aliran Theravada, yang menu­rutnya memiliki perbedaan panda­ngan dengan Walubi dalam hal keyakinan dan praktik keagamaan.

Meski demikian, ia menegaskan per­bedaan tersebut tidak seharus­nya menjadi alasan untuk meng­halangi umat menjalankan ibadah.

Terkait kepemilikan yayasan dan aset vihara, Wilhelmus menyatakan bahwa pihaknya telah memenang­kan gugatan di Pengadilan Tata Usa­ha Negara (PTUN). 

Dengan demi­kian, ia menegaskan yayasan beser­ta seluruh asetnya tetap sah menjadi milik Yayasan Suara Giri Tirta.

Meski pintu vihara terkunci, umat Buddha tetap melaksanakan ibadah di luar area vihara sekitar pukul 23.32 WIT. Ibadah berlangsung aman dan penuh khidmat.

Pinantoan tak tahu

Sementara itu Ketua Permabudi, Alin Tjoa Pinantoan, membantah tudingan terkait tindakan peng­gembokan gerbang Vihara Swarna Giri Tirta, kawasan Gunung Nona, Ambon, Selasa (24/2) malam.

“Saya saja tidak tahu dan pintu­nya tidak pernah ditutup. Setahu saya, Vihara itu buka jam 07:00 pagi sam­pai jam 18:00 sore,” katanya ketika dikon­firmasi Siwalima, Rabu (25/2).

Ia mempertanyakan waktu pelak­sa­naan ibadah yang dilakukan oleh Wilhelmus Jauwerissa  dan umat yang lain pada malam hari.

Menurutnya, jika kegiatan dilaku­kan di luar jam operasional, maka wajar Vihara sudah ditutup.

“Mereka berdoa kapan? Tadi malam mereka berdoa. Kalau sudah jam begitu kan memang tutup, bukan jam ibadah lagi, makanya ditutup. Kalau ada sembahyang malam, saya tidak tahu. Bagaimana saya suruh kunci? Saya tidak tahu sama sekali, saya tidak tahu apa-apa,” tegasnya.

Dirinya juga mengaku tidak pernah memberikan perintah untuk mengunci gerbang maupun meng­halangi umat Buddha menjalankan ibadah.

Ia juga mengatakan tidak menge­tahui adanya kegiatan ibadah pada malam tersebut.

Pernyataan ini sekaligus memban­tah tudingan sebelumnya yang menyebut dirinya terlibat dalam penggembokan gerbang Vihara saat umat hendak melaksanakan ibadah tahunan.(Mg-1)

BERITA TERKAIT