SIWALIMA.id > Berita
Wamenkes Bakal Pantau Skrining Tuberkulosis di Maluku
Online | Selasa, 13 Januari 2026 pukul 14:51 WIT

AMBON, Siwalima.id - Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, dijadwalkan mengunjungi Maluku, guna memantau  program nasional penanggulangan tuberkulosis (TB).

Kunjungan orang nomor dua di Kementerian Kesehatan ini, akan berlangsung selama dua hari yakni 20 dan 21 Januari mendatang, dengan fokus kunjungan di RSUP dr J Leimena, RSUD Izak Umarela dan Puskesmas Hutumuri.

"Betul, jadi 20-21 Januari nanti Wamenkes kunjungi Maluku untuk melihat sejauh mana pencapaian skrining TB dan refraksi mata dan juga Wamen akan melihat kemungkinan pemberian bantuan alat ektrem portabel yang disiapkan kurang lebih 9 unit yang merupakan arahan Menkes,” ungkap Kadis Kesehatan Maluku, Yan Aslian Noor kepada Siwalima.id melalui telepon selulernya, Selasa (13/1).

Yan mengungkapkan pemerintah pusat saat ini tengah masif melalui skrining TB, sebagai upaya melakukan eliminasi TB pada tahun 2030, melalui strategi menemukan, mengobati, mencegah penularan (TOSS-TB: Temukan, Obati, Sampai Sembuh).

Untuk tahun 2026, Kementerian Kesehatan telah menargetkan sebanyak 35.586 orang masyarakat harus diskrining, yang terdiri dari orang yang terduga TB beserta lingkungan sekitar.

“Bila dalam satu rumah ditemukan satu penderita TB, maka orang dalam rumah itu harus di skrining dengan menggunakan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang telah tersebar secara merata di kabupaten/kota sebanyak 37 unit,” ungkap Yan.

Yan mengaku, hingga tahun 2025 kemarin, jumlah masyarakat yang telah terkonfirmasi TB sebanyak 5.355 orang, namun pencapaian skrining baru mencapai 6.000 orang atau 70 persen.

"Skrining memang sudah berjalan, tapi pengunaan belum maksimal dikarenakan 1.9 juta penduduk Maluku itu tersebar di banyak pulau, sementara alat skrining hanya ada di pusat kabupaten/kota," jelas Yan.

Menurutnya, untuk melakukan skrining butuh biaya untuk datang ke pusat kabupaten/kota, walaupun biaya pemeriksaan gratis, namun transportasi yang mahal, maka kedepan caranya akan diubah, artinya petugas yang harus proaktif dengan mendatangi rumah penduduk yang diduga terpapar TB

Cara intevensi seperti ini, tentu berdampak pada anggaran yang akan bertambah dan kepatuhan petugas untuk bekerja, sebab untuk mencapai target nasional tersebut, maka harus ada 125 pemeriksaan setiap hari selama 1 tahun.

"Ini pekerjaan rumah kita dan butuhk biaya operasional dan bahan habis pakai yang harus lebih banyak lagi, termasuk insentif tambahan bagi petugas dan juga kerjasama lintas,” ujar Yan.(S-20)

BERITA TERKAIT