AMBON, Siwalima.id - Sejumlah wilayah kepulauan di Maluku diproyeksikan berpotensi terdampak kenaikan permukaan air laut dalam jangka panjang, sehingga pemerintah diminta segera melakukan langkah antisipatif dalam perencanaan pembangunan.
Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Maliki menegaskan, bahwa analisis berbasis data menunjukkan adanya potensi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil seperti beberapa di kepulauan Aru hingga Tanimbar yang dapat mengalami genangan akibat perubahan iklim.
“Sekitar 100 hingga 200 meter wilayah pesisir di beberapa titik berpotensi terdampak kenaikan permukaan air laut meski ini masih lama, Pemerintah Maluku harus diantisipasi sejak sekarang,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penggunaan data proyeksi dalam perencanaan pembangunan, termasuk penentuan lokasi fasilitas publik seperti sekolah dan infrastruktur dasar agar tidak berada di wilayah rawan terdampak.
Menurutnya, perencanaan pembangunan di daerah kepulauan seperti Maluku harus berbasis data dan mempertimbangkan risiko jangka panjang, termasuk perubahan iklim.
“Jangan sampai pembangunan fasilitas baru seperti pembangunan SMA atau pembangunan lainya justru berada di area yang sudah diproyeksikan berisiko terdampak. Ini harus menjadi bagian dari perencanaan berbasis data,” katanya.
Olehnya Bappenas juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sistem perencanaan berbasis data melalui integrasi sistem Satu Data dan alat analisis seperti SEPAKAT, guna mendukung kebijakan yang lebih presisi dan adaptif terhadap perubahan.
Selain pulau, data Bappenas juga menunjukkan minimnya fasilitas pendidikan khususnya SMA disejumlah daerah di Maluku terbanyak di Kabupaten Kepulauan Tanimbar
Satu Data
Pemerintah terus memperkuat implementasi Satu Data Indonesia sebagai fondasi perencanaan pembangunan berbasis bukti (evidence-based planning), termasuk di Provinsi Maluku yang tengah mengoptimalkan integrasi data lintas sektor.
Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Maliki menegaskan, Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan data, melainkan memiliki kekayaan data yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.
“Indonesia itu tidak miskin data, bahkan sangat kaya. Ada data BPS, Kementerian Sosial, Kemendikbud, BKKBN, BPJS, hingga data administrasi kependudukan. Tantangannya adalah, bagaimana semua data ini bisa saling berbicara dan terintegrasi,” ucap Maliki
Ia mengaku, berbagai jenis data seperti data survei BPS, data administrasi, hingga data by name by address perlu disatukan, agar dapat menghasilkan analisis yang utuh untuk mendukung kebijakan pemerintah.
Melalui alat bantu analisis seperti SEPAKAT, pemerintah dapat menggabungkan berbagai sumber data untuk menghasilkan perencanaan yang lebih presisi, termasuk dalam memetakan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, hingga ketenagakerjaan di daerah.
“Dengan data yang terintegrasi, kita bisa melihat secara jelas kondisi wilayah, termasuk kemiskinan, akses pendidikan, hingga distribusi tenaga kesehatan. Ini penting untuk menentukan kebijakan yang tepat,” jelasnya.
Sementara Program SKALA yang merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Australia, turut mendorong penguatan siklus data daerah, mulai dari perencanaan, pengumpulan, analisis, hingga diseminasi data.
Perwakilan PPogram SKALA menegaskan, bahwa pihaknya mendukung penguatan kelembagaan satu data daerah serta pengembangan portal data daerah di Maluku yang rencananya akan diluncurkan pada akhir Mei.
“Data saja tidak cukup. Harus dianalisis agar menjadi dasar kebijakan yang tepat. Karena itu kami mendukung portal data daerah dan penguatan analisis berbasis data di Maluku,” ujarnya.
Melalui integrasi data dan penguatan sistem digital, pemerintah berharap, kebijakan pembangunan di Maluku dapat lebih tepat sasaran, khususnya dalam menurunkan angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas layanan dasar bagi masyarakat.
Jadi Acuan
Sementara itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa memastikan, program satu data Maluku akan menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan oleh pemerintah provinsi kedepan.
Untuk itu, pengambilan setiap kebijakan, termasuk dalam pembangunan daerah Maluku mestinya didasarkan pada data yang valid dan akurat.
Karena itu, inisiatif program satu data Maluku yang dibahas oleh Kominfo sangat penting dalam membantu pemerintah daerah merumuskan kebijakan serta mengambil keputusan yang berbasis pada data yang akurat.
“Program satu data Maluku nantinya sangat bermanfaat bagi Pemerintah Provinsi Maluku, khususnya dalam mendukung efektivitas tata kelola pemerintahan,” ucap gubernur kepada wartawan di kantor gubernur, Selasa (28/4).
Menurutnya, dengan adanya sistem satu data tentu akan mempermudah proses kepemimpinan dan pengambilan keputusan di Provinsi Maluku yang merupakan daerah dengan karakteristik kepualauan.
Satu Data dirancang sebagai wadah informasi sektoral yang komprehensif, dimana sistem ini nantinya akan menjadi rujukan utama bagi investor, akademisi, hingga instansi pemerintah dalam memperoleh data akurat guna mendukung proses perencanaan pembangunan serta pengambilan keputusan strategis di wilayah Maluku.
Apalagi berdasarkan laporan Dinas Kominfo dari total 3.920 data yang diinventarisir pada tahun 2025, seluruhnya sudah diinput, diperiksa, dan dipublikasikan oleh wali data dan telah disahkan melalui SK Gubernur Nomor 1900 tahun 2025.
“Ini inisiatif yang baik dan sebagai gubernur saya mendukung penuh upaya menghadirkan program satu data Maluku sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan di daerah,” jelas Gubernur.
Satu Data Maluku
Terpisah Kadis Infokom Maluku Titus Renwarin menjelaskan, dinas yang dipimpinnya ini terus mendorong penguatan sistem data terintegrasi, melalui pengembangan Lawamena Satu Data Maluku. Langkah ini dinilai strategis, untuk mempercepat proses pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan daerah.
Selama ini, persoalan utama yang dihadapi pemerintah daerah adalah, terjadinya fragmentasi data antar OPD. Kondisi tersebut kerap menghambat penyajian data yang cepat dan akurat bagi pimpinan daerah.
“Selama ini data masih tersebar di masing-masing OPD, sehingga menyulitkan saat dibutuhkan secara cepat. Lawamena Satu Data hadir untuk mengintegrasikan seluruh data itu dalam satu sistem yang terstandar,” ujar Renwarin.
Menurutnya, portal tersebut dirancang tidak hanya mengakomodasi data sektoral di daerah, tetapi juga terhubung dengan data pemerintah pusat melalui prinsip interoperabilitas. Dengan sistem itu, seluruh data perencanaan diharapkan dapat saling terkoneksi dan memperkuat analisis pembangunan.
Kedepan kata Renwarin, portal ini akan dilengkapi dengan executive dashboard yang dapat diakses langsung oleh pimpinan daerah. Fitur tersebut memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara cepat, tanpa harus menunggu proses permintaan data secara manual.
“Pimpinan daerah nantinya bisa langsung mengakses data yang sudah tersedia secara real time. Ini akan mempercepat proses pengambilan kebijakan yang lebih akurat dan berbasis data,” tandasnya.
Dari sisi teknis, pengembangan sistem ini mendapat dukungan dari Program SKALA, dengan tetap mengacu pada standar data dan meta data nasional. Kominfo Maluku sendiri berperan dalam memastikan kesiapan infrastruktur serta sistem pendukung berjalan optimal.
“Kami memastikan infrastruktur dan sistemnya siap, sementara integrasi data dilakukan dengan mekanisme yang ketat agar kualitas data tetap terjaga,” ujarnya.
Renwarin berharap, kehadiran Lawamena Satu Data Maluku mampu mendorong perencanaan pembangunan yang lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran, terutama dalam menjawab tantangan geografis Maluku sebagai daerah kepulauan.
“Kalau data sudah terintegrasi dan mudah diakses, maka keputusan yang diambil juga akan lebih cepat, tepat, dan berbasis data yang valid,” tandasnya.(S-26)