SIWALIMA.id > Berita
BPS Catat Harga Barang Mulai Naik Jelang Idul Fitri
Ekonomi | Selasa, 3 Maret 2026 pukul 10:59 WIT

AMBON, Siwalima.id - Badan Pusat Statistik mencatat sejumlah barang kebutuhan masyarakat merangkak naik jelang Idul Fitri 1447 H.

Hal ini menjadi penyebab tingkat inflasi year on year (y-on-y) di Maluku cukup tinggi pada bulan Februari 2026 sebesar 5,97 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,30.

Inflasi (y-on-y) tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 6,77 persen dengan IHK sebesar 112,47, Kota Ambon sebesar 5,94 dengan IHK 112,24 dan terendah terjadi di Kabupaten Maluku Tengah sebesar 5,92 persen dengan IHK sebesar 112,38.

“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga kelompok pengeluaran  terbesar dari kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga sebesar 21,40 persen,” terang Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia dalam rilis yang diterima Siwalima, Senin (2/3).

Selain kelompok perumahan, inflasi juga disumbangkan oleh  kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 9,05 persen.

“Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 6,77 persen kelompok kesehatan sebesar 5,32 persen, kelompok pendidikan sebesar 2,84 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,95 persen,” jelas Pattiwaellapia.

 Sedangkan tingkat inflasi month to month (m-to-m) Provinsi Maluku bulan Februari 2026 sebesar 0,58 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,34 persen.

Secara umum, perkembangan harga berbagai komoditas pada Februari 2026 dibandingkan Februari 2025 menunjukkan tren kenaikan.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS Provinsi Maluku di 3 kabupaten dan kota, pada Februari 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 5,97 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,97 pada Februari 2025 menjadi 112,30 pada Februari 2026.

“Tingkat inflasi m-to-m sebesar 0,58 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 1,34 persen,” ujarnya.

Untuk komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y pada Februari 2026, antara lain tarif listrik, emas perhiasan, ikan layang, ikan selar, ikan cakalang.,

Ada juga bawang merah, beras, buncis, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), labu siam, kacang panjang, ikan tongkol, ikan tuna, daging ayam ras, nasi dengan lauk, tarif rumah sakit, biaya akademi/perguruan tinggi, mobil dan kopi bubuk.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi y-on-y, antara lain bensin, wortel, bawang putih, sabun mandi, popok bayi sekali pakai, biskuit, lemon, bayam, sepatu pria, gula pasir, kentang, tempe, hand body lotion dan lainya.

Mulai Ekspor Tahun 2026

Sementara itu Pemerintah Provinsi Maluku mulai melakukan ekspor non migas ke sejumlah negara Asia pada awal tahun 2026.

Ekspor Maluku bulan Januari 2026 mencapai US$ 5,22 juta atau turun 66,92 persen dibanding Desember 2025.

“Jika dibandingkan dengan ekspor Januari 2025 senilai sebesar US$ 4,77 juta, maka ekspor bulan Januari 2026 mengalami peningkatan sekitar 9,39 persen,” jelas Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia dalam rilis yang diterima Siwalima, Senin (2/3).

Ekspor Maluku bulan Januari 2026 berasal dari sektor nonmigas dengan negara tujuan pada Januari 2026 menuju kawasan negara Asia lainnya senilai US$ 5,22 juta.

“Komoditas non migas berasal dari kelompok ikan dan udang berupa ikan kerapu, ikan laut hidup, ikan hias hidup selain ikan air tawar dan udang beku,” terang  Pattiwaellapia.

Kalau dibandingkan dengan bulan Desember lalu, nilai ekspor Januari 2026 turun sekitar 66,92 persen dibandingkan nilai ekspor Maluku bulan Desember 2025 (US$ 15,76 juta yang berasal dari komoditas migas (bahan bakar) dan nonmigas (kelompok ikan dan udang serta lainnya).

Pada Januari 2026, ekspor Maluku hanya menuju negara kawasan Asia lainnya senilai US$ 5,22 juta yaitu ke negara Hongkong senilai US$ 0,25 juta dan ke Tiongkok senilai US$ 4,96.

“Pada periode ini, ekspor Maluku tidak merambah ke negara anggota ASEAN maupun luar kawasan Asia, sama dengan bulan sebelumnya,” katanya.

Sementara untuk impor Maluku bulan Januari 2026 mencapai US$ 61,96 juta atau naik sekitar 16,80 persen dibandingkan impor Desember 2025 (US$ 53,05 juta).

Jika dibandingkan dengan impor Januari 2025 senilai US$ 30,12 juta maka impor pada Januari 2026 mengalami peningkatan sekitar 105,73 persen dari negara dari kawasan Asean senilai US$ 24,94 juta, kawasan Asia lainnya senilai US$ 0,56 juta dan kawasan lainnya senilai US$ 36,46 juta.

“Komoditi yang diimpor bulan Januari 2026 berupa sektor migas dan non migas,” tandasnya.(S-09)

BERITA TERKAIT