AMBON, Siwalimanews – Plt Ketua DPD I Golkar Maluku, Umar Lessy mengaku terkejut dengan kabar pengunduran diri Sekretaris James Timisela.
Lessy bilang, dirinya baru mengetahui pengunduran diri sekretaris DPD Partai Golkar, dan alasan pengunduran tersebut dirinya mengetahui.
“Soal pengunduran diri saya juga baru tahu setelah berita itu dikirim ke saya oleh teman-teman wartawan. Untuk alasan pasti, kami belum mengetahui sehingga nanti kami cek lagi alasan pasti di balik pengunduran diri pak sek,” ujar Lessy kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (11/8).
Lessy enggan berkomentar lebih jauh karena pengunduran diri resmi dari sekretaris DPD Golkar Maluku ia belum menerimanya.
Bongkar Borok
James Timisela secara terbuka mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan sebagai Sekretaris DPD I Partai Golkar Maluku.
Timisela juga membongkar borok mekanisme kerja internal DPD Patai Golkar Maluku yang dinilainya telah keluar koridor aturan organisasi.
Kepada sejumlah wartawan di Ambon, Minggu (11/8) malam, Timisela menegaskan, langkah ini diambil setelah merasa kewenangan dan tanggung jawabnya sebagai sekretaris dilangkahi.
Ia menyebutkan, salah satu pemicu utama adalah proses revitalisasi kepengurusan DPD I Golkar Maluku yang menurutnya, tidak pernah melibatkan dirinya secara resmi.
“Revitalisasi kepengurusan seharusnya dibicarakan dan disetujui oleh Plt ketua serta sekretaris sesuai mekanisme yang berlaku. Namun, saya tidak pernah diberitahu tidak diajak membicarakan, dan tidak menandatangani surat pengusulan tersebut,” tegas Timisela.
Timisela bilang, dalam struktur partai, rapat pleno diperluas sebenarnya tidak dikenal dalam hierarki musyawarah. Namun rapat pleno yang digelar belakangan ini justru digunakan untuk mengusulkan pergantian pengurus.
Padahal, lanjutnya, perubahan struktur mestinya hanya dilakukan terhadap kader yang meninggal dunia, pindah partai atau telah menjadi Pegawai Negeri Sipil.
“Dari awal saya sudah mengingatkan bahwa pergantian di masa kepengurusan yang tersisa hanya satu-dua bulan tidak akan menguntungkan partai. Tapi masukan itu tidak diindahkan,” ujarnya.
Timisela menilai cara kerja yang tidak menghargai peran sekretaris membuat dirinya tidak lagi nyaman berada di jajaran kepengurusan.
Ia menuding Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Maluku, Umar Lessy telah mengambil langkah di luar kewenangannya.
“Kalau prosesnya tidak sesuai aturan, maka sebagai kader yang memegang teguh etika dan moral partai, saya memilih mundur. Dari pada saya bertahan tapi hati saya tidak sejalan dengan cara-cara yang tidak sehat, dan tidak benar,” tegasnya.
Meski demikian, Timisela menegaskan dirinya tetap setia sebagai kader Partai Golkar. Keputusan mundur dari jabatan sekretaris, menurutnya, bukan berarti keluar dari partai, melainkan bentuk sikap politik demi menjaga marwah organisasi.
“Saya mencintai partai ini. Sejak saya bergabung, saya menghormati pimpinan dan berkomitmen untuk membela kebenaran serta keadilan. Keputusan ini saya ambil demi masa depan Golkar, agar tidak terjebak dalam konflik internal yang hanya akan menurunkan elektabilitas,” ujarnya.
Timisela juga mengungkapkan adanya masalah dalam proses penunjukan Plt Ketua DPD I Golkar Maluku.
Dalam Surat Keputusan Nomor 97/DPP/GOLKAR/VII/2025, DPP Golkar menunjuk Umar Lessy sebagai Plt Ketua DPD I Maluku untuk menggantikan Ramly I Umasugi yang dinilai tidak menjalankan tugasnya.
Namun, kata Timisela, penunjukan itu tidak menggunakan rekomendasi hasil sidang dewan etik sebagaimana mestinya.
“Penunjukan Plt itu memang hak DPP, tapi mekanismenya harus benar. Kalau rekomendasi dewan etik diabaikan, maka prosesnya cacat secara aturan,” tegasnya.(S-26)