SIWALIMA.id > Berita
Empati dan Guru Pendidik
Opini | Selasa, 28 April 2026 pukul 13:01 WIT

DARI debat seru berbagai kajian, kita dapat menyimpulkan empati merupakan isu penting dalam kehidupan (Coplan, 2011). Di dunia pendidikan, empati menjadi krusial untuk membangun komunikasi sehat antara guru pendidik dan peserta didik. Empati membantu seseorang berinteraksi baik dengan mereka yang berbeda budaya (Gulec 2020: 26). Kini, dalam kajian relasi sosial, empati diakui, diyakini, sebagai perekat penting jaringan sosial menghadapi tantangan globalisasi (Assmann & Detmers, 2016).

Pada era global ini, ada hal-hal nonkognitif bagi keberhasilan seorang guru pendidik. Sikap seperti resiliansi dan empati berhubungan erat dengan efektivitas guru menghadapi peserta didik dari beragam latar budaya. Para guru berempati (empathic teachers) berusaha keras meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab (sense of belonging) pada peserta didik (Christensen & Knezek, 2025). Pendidikan human (humanistic education) menekankan pengem­bangan emosi dan empati sejalan dengan kemampuan kognitif. Pendidikan holistis mengupayakan perkemba­ngan utuh: intelektual, emosi, fisik, sosial, estetika, spiritual (Miller, 2005). Strategi mengajar tak hanya berkaitan dengan kemampuan berbahasa, tetapi juga kecerdasan emosi dan pemahaman empatik, penting untuk komunikasi efektif dan kemampuan budaya (cultural competence) di dunia global (Thuy & Thao, 2025).

EMPATI DAN PERSPEKTIF EMPATI

Konsep empati pertama kali diperkenalkan Robert Vischer (1873) melalui kata einfuhlung, perasaan pengamat yang didorong karya seni. Menurut Pigaman (1995) dalam Hojat (2016), kata itu menggambarkan proyeksi perasaan manusia ke dunia materi. Theodor Lipps kemudian menggunakannya untuk menjelaskan pemahaman objek estetika sekaligus keadaan mental orang lain (Coplan & Goldie, 2011).

Beberapa dekade kemudian, empati mendapat perhatian luas, tetapi pengertiannya tetap diperdebat­kan. Empati ialah konsep elusive, tak mudah dide­fi­nisikan. Banyak klinisi tahu secara intuitif, tapi tak bisa merumuskannya, analog dengan 'cinta' (Hojat, 2016). Ia merupakan complex mix kemampuan fisik, kognitif, emosi, sosial, dan etik yang bisa muncul dalam kese­harian serta dilatih lewat seni (Assmann & Detmers, 2016).

Lalu apa empati? Menurut Coplan (2011), jawabannya bergantung pada siapa yang ditanya. Empati dipahami sebagai satu atau beberapa proses yang memiliki hubungan longgar (loosely related), mencakup mera­sakan atau terpengaruh emosi orang lain, mengimajinasi diri dalam situasinya, menyimpulkan keadaan mental­nya, atau kombinasinya.

Coplan (2011) membedakan tiga jenis utama empati. Pertama, affective matching (pencocokan afektif): pengamat mengalami emosi yang secara kualitatif identik dengan pihak yang menjadi sasaran. David Hume menyebutnya kemampuan mengomunikasikan emosi, membawa kita keluar dari diri untuk merasakan pe­ngalaman orang lain (Oxley, 2012). Di kelas, ketika seorang murid menangis karena ibunya baru me­ninggal, guru yang melakukan affective matching akan ikut merasakan kesedihan mendalam, bukan sekadar mengucapkan penghiburan dengan wajah datar.

Kedua, self-oriented perspective taking (berorientasi diri): proses imajinatif membayangkan diri sendiri berada dalam situasi orang lain (Coplan, 2011). Oxley (2012) menyebutnya self-focused imagination. Seorang guru yang menghadapi murid lesu setelah semalaman dimarahi orangtuanya karena nilai buruk, misalnya, akan membayangkan dirinya di posisi murid itu, merasa malu, takut, malas berangkat sekolah, sehingga ia memutus­kan tidak menambah tekanan dengan teguran di kelas.

Ketiga, other-oriented perspective taking (berorien­tasi orang lain): membayangkan bagaimana orang lain memandang situasinya sendiri dan merasakan akibatnya (Coplan, 2011). Oxley (2012: 21) menyebut­nya other-focused imagination. Masih dengan kasus murid yang dimarahi orangtua, guru dengan perspektif itu tidak sekadar membayangkan dirinya menjadi murid tersebut, tetapi benar-benar berusaha masuk ke kepalanya: bagaimana ia melihat kemarahan orang­tuanya, apakah ia merasa tidak adil, ataukah ia mengira orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi. Guru merespons bukan berdasarkan asumsinya, melainkan berdasarkan apa yang bergulat dalam batin sang murid.

Selain itu, Oxley (2012) menambahkan dual-perspective imagination (kombinasi): melihat sesuatu dari perspektif orang lain sekaligus dari perspektif diri sendiri, diperoleh melalui pengakuan terhadap emosi orang lain sambil tetap mempertahankan perspektif diri. Ketika seorang murid ketahuan menyontek, guru de­ngan perspektif itu berpikir dari dua sisi: dari perspektif murid, ia pasti takut gagal dan malu pada orangtua; dari perspektif dirinya sebagai guru, ia harus mene­gak­kan kejujuran tetapi bisa memberi kesempatan ke­dua. Hasilnya, guru tidak sekadar menghukum, tetapi juga mengajak murid berdiskusi sambil tetap mene­gaskan bahwa menyontek ialah kesalahan.

MENUMBUHKAN EMPATI

Berempati ialah tindakan memahami, dibangun melalui kesediaan menggali pemikiran dan reaksi yang membuat orang tersentak (Young, 2015: 18). Ia memberi kita kemampuan mencoba perspektif orang lain, memikirkan dan mereaksi seolah mengalaminya sendiri. Young (2015: 23, 26-27) menegaskan bahwa berempati berarti memiliki rasa ingin tahu terhadap alur pikir orang: memahami dari satu pemikiran ke pemikiran lain, dan memikirkan orang lain sebelum memutuskan.

Karena itu, guru perlu kemampuan mendengar: perhatian penuh, tidak menyela, dan membuat murid merasa aman. Hakikatnya, mengembangkan empati ialah memahami sesuatu yang lebih dalam dari akal dan lubuk hati, yang semua manusia rasakan (Young, 2015: 49, 51). Ketika seorang murid mengeluh lelah, guru berem­pati tidak akan merespons bahwa masa muda tak kenal lelah. Sebaliknya, ia menghentikan aktivitas, menatap mata murid, lalu mempersilakannya bercerita apa yang sebenarnya terjadi.

Empati kepada diri sendiri ialah basis berempati kepada orang lain. Jika tak bisa mencintai, memahami, dan memaafkan diri sendiri, ia pun tak bisa melakukan­nya kepada orang lain (Breggin, 1997: 159, 161). Seorang guru yang gagal dalam ujian sertifikasi, misalnya, jika tidak mampu memaafkan dirinya, ia cenderung mudah marah kepada murid yang membuat kesalahan kecil. Sebaliknya, guru yang berdamai dengan kegagalannya akan sadar bahwa murid-muridnya juga sedang belajar dan berhak salah, sama seperti dirinya.

Kesempurnaan manusia ada dalam ketidak­sempur­naan. Al insaan mahalul khathai wanisyaan, manusia ialah tempat salah dan lupa. Sebagaima­na pepatah Ing­gris menyebutkan, to err is human, divine is God. Oleh: Fuad Fachruddin, Anggota Dewan Pakar GUPPI.(*)

BERITA TERKAIT