GUBERNUR Maluku, Hendrik Lewerissa menegaskan, Kota Masohi bukan sekedar nama, melainkan jiwa yang menyatukan masyarakat Maluku. Hal itu disampaikan dalam upacara peringatan HUT ke-68 Kota Masohi di Lapangan Nusantara, Senin (3/11).
“Masohi bukan sekadar nama kota, tapi jiwa yang menyatukan kita,” tegas Lewerissa saat memberikan sambutan di hadapan ribuan warga.
Lewerissa mengajak masyarakat Maluku Tengah untuk mensyukuri kasih Tuhan yang telah menambah usia Kota Masohi menjadi 68 tahun. Ia mengatakan, kota yang dulu dibangun dari hutan belantara kini telah berubah menjadi pusat kehidupan masyarakat yang majemuk dan menjadi simbol kebersamaan di Maluku.
Gubernur juga mengingatkan kembali sejarah peresmian Kota Masohi oleh Presiden Soekarno pada 3 November 1957 sebagai Kota Gotong Royong.
“Pesan Bung Karno itu kembali kita hidupkan lewat tema tahun ini: Masohi Berbudaya, Masohi Bersaudara,” ujar Lewerissa.
Menurutnya, kemajuan Kota Masohi tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur, tetapi dari karakter warganya yang menjunjung tinggi semangat gotong royong.
“Kalau dulu Masohi berarti angkat batu dan bangun rumah sama-sama, sekarang Masohi berarti bangun ekonomi bersama, jaga kebersihan bersama, lawan hoaks bersama, dan pelihara kerukunan bersama,” katanya.
Ia menegaskan, menjadi warga Masohi bukan soal tempat tinggal, tetapi soal sikap dan tanggung jawab.
“Kalau masih suka bakalai, buang sampah sembarangan, atau langgar aturan, jangan mengaku warga Masohi. ASN yang malas, anak sekolah yang bolos, semua itu harus berubah. Mulailah dari diri sendiri, kalesang diri, kalesang rumah, kalesang karja, kalesang balajar, dan kalesang hidup orang basudara,” tandasnya.
Lewerissa menyebut, Masohi saat ini sudah maju, namun kemajuan sejati terletak pada semangat kebersamaan yang terus hidup di tengah masyarakat. (S-17)