SIWALIMA.id > Berita
Gubernur: Sidang Sinode Harus Jawab Persoalan Umat
Online | Senin, 20 Oktober 2025 pukul 02:43 WIT

AMBON, Siwalimanews – Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, berharap keputusan sidang sinode ke 39 Gereja Protestan Maluku harus mampu menjawab persoalan umat di Maluku dan Maluku Utara.

Harapan ini diungkapkan Gubernur dalam sambutannya pada Sidang Sinode ke-39 GPM, dengan sorotan tema “Anugerah Allah melengkapi dan meneguhkan gereja menuju satu abad GPM, di Gedung Gereja Maranatha, Minggu (19/10).

Gubernur mengungkapkan, tema ini memiliki makna mendalam, sebab bukan saja mengandung kesadaran iman akan perjalanan sejarah GPM, tetapi juga akta pengakuan dalam hidup bergereja.

“Apalagi memasuki satu abad pelayanan di tahun 2035, GPM telah menjadi pilar rohani, sosial dan kultural di bumi Maluku dan Maluku Utara,” ujar orang nomor satu di Maluku ini.

Dikatakan, sejarah mencatat hingga saat ini, GPM tetap eksis sebagai gereja yang membumi, menyatu dengan masyarakat serta menjadi tiang penopang spiritualitas yang menuntun umat untuk hidup dalam kasih dan persaudaraan sejati.

Pemerintah daerah kata Gubernur, memberikan apresiasi bagi GPM yang telah menanam dan menyiram dengan cara terus berjalan bersama, bermitra sekaligus kawan diskusi yang kritis dalam menatakelola kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Kesantunan dalam berelasi dan membangun dialektika yang beretika harus terus menjadi warna terang GPM yang menyinari bumi Maluku dan Maluku Utara,” ungkap Gubernur.

Pelaksanaan Sidang Sinode lanjut Gubernur, merupakan cara gereja untuk menjaga kehidupan bersama dalam semangat hidup orang basudara sebagai nilai luhur dengan menekankan persaudaraan yang melampaui sekat agama, suku, ras maupun status sosial.

“GPM telah mengaktakan hal itu lewat khotbah, nasehat dan pengajaran, bahkan dalam aksi nyata di lapangan yang tentu saja dilakukan bersama agama lain, artinya GPM telah mengajarkan bahwa keragaman bukan untuk dipertentangkan, tetapi sebagai Anugerah Tuhan,” tambahnya.

Sebagai kepala daerah, Gubernur percaya bahwa GPM dan pemerintah adalah mitra dalam menghadirkan transformasi sosial dengan kata lain Gereja menanamkan nilai rohani, moralitas dan solidaritas sementara pemerintah membangun infrastruktur, ekonomi dan tata kelola,” jelasnya.

Realita ini menunjukkan walaupun gereja dan pemerintah berbeda jalan, tetapi memiliki tujuan yang sama yakni mewujudkan kesejahteraan, kemajuan dan keadilan bagi rakyat.

“Saya mengajak GPM untuk semakin visioner, inovatif dan adaptif menghadapi tantangan zaman baik globalisasi, digitalisasi, kemiskinan, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, perubahan iklim, intoleransi dan polarisasi sosial serta masih banyak tantangan lainnya,” bebernya.

Di sisi lain, GPM harus tampil sebagai gereja yang  profetik yakni berani menyuarakan kebenaran, melawan ketidakadilan dan membela yang lemah seperti firman tuhan dalam Mikha 6 ayat 8 yang  menegaskan “telah diberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu”.

Bagian firman ini, lanjut Gubernur, menjadi kritik, sekaligus panduan moral tidak hanya bagi gereja, tetapi juga bagi pemerintah daerah dalam mengelola amanat rakyat sebab pembangunan Maluku tidak hanya soal infrastruktur, ekonomi dan teknologi, tetapi juga membangun iman, karakter dan budaya toleransi.

“Melalui Sidang Sinode ini, GPM harus kembali meneguhkan diri sebagai gereja yang melayani tanpa diskriminasi, gereja yang memperkuat nilai hidup orang basudara dan gereja yang berdampak karena bersinergi dengan pemerintah dalam menangani persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan membuka peluang kerja demi menghadirkan kesejahteraan,” tambahnya.

Gubernur berharap, Sidang Sinode ke-39 ini tidak hanya menghasilkan keputusan administratif, tetapi juga merumuskan arah pelayanan GPM yang lebih kuat, kontekstual dan transformatif termasuk menjawab gumulan umat.

Mantan anggota DPR ini juga menekankan agar GPM harus menjadi rumah pendidikan rohani yang melahirkan generasi yang berkarakter, cerdas dan berani mengambil tanggung jawab, baik di gereja, masyarakat, maupun pemerintahan.

Politisi Gerindra ini menambahkan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan gereja pun tidak bisa berjalan sendiri olehnya dibutuhkan bersinergitas dengan berbagai sektor saling menopang, melengkapi dan menguatkan par Maluku pung bae. (S-20)

BERITA TERKAIT