AMBON, Siwalima.id - Program hilirisasi sagu di Kabupaten SBT, diharapkan dapat diakomodir dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2027.
Hal ini berdasarkan surat rekomendasi Kemendagri ke Bappenas yang minta agar program hilirisasi sagu yang diusulkan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa dan Bupati SBT, Fachri Alkatiri dapat diakomodir dalam RKP 2027.
Kepala Dinas Pertanian Maluku, Ilham Tauda mengaku, dalam RPJMN program hilirisasi sagu di Maluku belum masuk proyek strategis nasional, namun dengan perjuangan gubernur dan Bupati SBT, maka telah menemukan titik terang.
"Kemendagri telah merekomendasikan kepada Bappenas untuk mengakomodir hilirisasi sagu Maluku sebagai salah satu PSN dalam RKP tahun 2027 dan kita berharap dapat direalisasikan,” ucap Tauda kepada Siwalima.id melalui telepon selulernya, Senin (23/2).
Menurutnya, 97 persen populasi sagu berada di Kabupaten SBT dan di tahun 2026 ini, ada dukungan dari APBN, baik perluasan maupun rehabilitasi sagu yang jumlahnya mencapai 600 hektar di Kabupaten SBT, disamping beberapa dukungan program, terutama menyangkut penataan pengembangan sagu.
Pemda ingin mengedukasi masyarakat dengan sistem budidaya yang baik, pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal, terutama dari pengolahan pasca panen akan dapat menghasilkan tepung sagu yang berkualitas.
“Kenapa ini penting, karena selama ini pengolahan pasca panen itu masih dilakukan secara tradisional dan dalam rangka mendukung hilirisasi sudah saatnya dilakukan perubahan atau transformasi, terutama bagaimana pengolahan pangan dengan sistem yang modern agar dapat meningkatkan nilai tambah,” jelas Tauda.
Tauda menegaskan, pemda telah menetapkan cikal bakal hilirisasi sagu, namun harus ada diskresi dari Kementerian Pertanian untuk dapat melihat pengembangan hilirisasi sagu di SBT.
Pemda, memang mengharapkan turunan dari produk sagu, bukan saja untuk Papeda, namun dikembangkan sampai dengan mengubah sebagai beras alternatif.
“Kami pernah mengunjungi beberapa industri pengolahan sagu di Tanggerang. Disana mereka sudah berhasil mengembangkan beras sagu atau semacam beras analog yang bahan bakunya diambil dari Papua. Kita punya potensi, apalagi kebutuhan beras kita masih defisit, maka kita bisa mendorong sagu untuk menjadi alternatif pendukung, khususnya sebagai beras analog untuk dikonsumsi masyarakat,” cetus Tauda.
Upaya hilirisasi sagu hingga produk turunanya dari tepung sagu menurut Tauda, telah diawali dengan kajian dari Unpatti, artinya perjuangan hilirisasi sagu dilakukan dengan data.(S-20)