SIWALIMA.id > Berita
Malut United Pecat Imran dan Yeyen
Online | Selasa, 17 Juni 2025 pukul 03:51 WIT

AMBON, Siwalimanews – Pelatih kepala Malut United FC, Imran Nahumarury, dipecat mendadak, lantaran terbukti melakukan pelaggaran berat.

Selain Imran, manajemen Malut United FC juga mengambil langkah serupa terhadap Yeyen Tumena Chaniago, yang selama ini menjabat Direktur Tekhnik klub yang bermarkas di Ternate itu.

Keduanya dipecat lantaran pelanggaran yang dilakukan tidak dapat ditolelir dan merugikan manajemen selama dua tahun terakhir.

Pemecatan keduanya dibenarkan langsung Dirk Soplanit, Direktur Utama PT Maluku Maju Sejahtera, yang menaungi Malut United FC kepada Siwalimanews melalui telepon selulernya, Senin (16/6).

Soplanit mengungkapkan, dari dua kompetisi terakhir memang capaian yang diperoleh Malut United sangat menggembirakan. “Artinya, kalau tidak ada masalah serius, tak mungkin manajemen memecat direktur teknik dan pelatih kepala,” kata Soplanit.

Sejak awal kompetisi Liga 2 kata Soplanit, sebenarnya indikasi ini sudah ada dan telah diketahui oleh manajemen, tapi ada harapan minimal keduanya berubah dan tidak lagi mengulangi perbuatan yang melanggar hukum. Tapi ternyata kesempatan itu tidak diambil untuk memperbaiki diri, tapi malah bertambah parah.

“Dari situ Kami punya banyak bukti transaksi uang dari siapa ke siapa dan itu bagi kami sudah sangat tidak bisa ditolelir, maka opsinya hanya pemecatan karena kita tidak ingin manajemen rusak secara internal,” ungkap mantan Direktur Liga Indonesia Baru ini.

Soplanit mengungkapkan, manajemen tentu bersandar pada bukti yang diterima baik dari pemain, asisten pelatih liga 2 hingga menemukan agen pemain asing di mana banyak bukti dan saksi bahwa ada uang yang diminta baik oleh pelatih kepala maupun direktur teknik.

Tak tanggung-tanggung jumlah uang yang didapatkan lumayan besar baik dari fee pemain asing maupun dari kontrak pemain lokal yang mengalir ke kantong pelatih kepala dan direktur teknik.

Soplanit mencontohkan untuk kontrak pemain asing terdapat fee agen yang ditentukan sebesar 10 persen, namun fee agen pemain asing tersebut justru diambil oleh direktur teknik.

“Saya ambil contoh untuk kontrak pemain asing 1 miliar itu fee-nya 10 persen yakni 100 juta itu diambil direktur teknik dan selama ini Maluku United mengontrak 14 pemain asing dari liga 2 sampai liga 1 artinya semuanya diambil direktur teknik,” ujar Soplanit.

Alhasil ketika manajemen membayar DP pemain sebesar 25 persen pasca penandatanganan kontrak, maka agen pemain asing langsung melakukan pemotongan fee 10 persen karena fee sebelumnya telah diambil oleh direktur, bahkan fee tersebut juga dibagi-bagi lagi ke kepala pelatih dan direktur teknik.

Sedangkan untuk pemain lokal liga 1 juga terdapat bukti transaksi adanya’ setoran mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta sampai puluhan juta yang diberikan oleh pemain kepada pelatih kepala dan direktur teknik.

“Dalam kasus ini bukan uang pemain yang diambil. Jadi misalnya pelatih memanggil orang untuk dipakai selama satu musim oleh Malut United dengan kontrak Rp.100 juta, tapi mereka tambah lagi Rp.100 juta jadi ada Rp 200, nanti setelah kita manajemen membayar baru mereka berdua ambil Rp 100 juta dan sisanya kepada pemain,” bebernya.

Dituturkan Soplanit, seluruh temuan tersebut, langsung diungkap oleh para pemain yang selama ini menjadi korban, kepada manajemen tim. “Itu murni pengakuan mereka, tak ada rekayasa,” ujarnya.

Soplanit mengancam apabila keduanya masih membantah temuan klub, maka manajemen akan melaporkan dan melimpahkan masalah ini ke polisi.

Melebihi Batas
Sementara itu, Wakil Manager Malut United FC, Asghar Saleh menegaskan, pemecatan terhadap Imran dan Yeyen dilakukan karena langkah keduanya dianggap sudah di luar batas.

Asghar menuturkan, ada juga kasus dimana keduanya meminta ratusan juta ke salah satu pemain, tapi diketahui oleh manajemen klub.

“Mereka kemudian mengirim balik uang tersebut, tetapi melalui pesan Whatsapp, si pemain diminta untuk menyetor kembali uang itu ke mereka,” jelasnya kepada Siwalimanews, Senin (16/6) siang melalui telepon selulernya.

Menurut Asghar, selama ini manajemen memberi kepercayaan penuh kepada keduanya untuk memilih dan menentukan pemain.

“Tapi tak ada kemajuan, makanya manajemen berdiskusi dengan asisten pelatih agar memilih pemain-pemain yang baik untuk membela Malut United,” imbuhnya.

Menurutnya pelanggaran yang dilakukan keduanya termasuk dalam kejahatan yang terstruktur, sistematis dan masif karena ada pola telah terjadi secara berulang-ulang sejak Liga 2.

Asghar menegaskan, Malut United yang kini sudah berusia 2 tahun dan orientasi manajemen bukan ke bisnis, sebab didasari bahwa profiling Malut United belum terlalu kuat artinya rata-rata ketika masuk ke wilayah bisnis maka sponsor butuh nama dan banyak hal.

“Jadi belum ada orientasi bisnis artinya dalam posisi seperti itu kita butuh orang-orang yang jujur dan punya integritas dan komitmen yang loyal untuk membesarkan tim ini bahwa nanti tim ini ketika sudah punya nama dan branding kita bagus, infrastruktur sudah siap tentu kita akan masuk ke wilayah bisnis makanya sangat disayangkan dalam situasi seperti ini ada orang-orang yang berpikir hanya untuk mencari keuntungan pribadi lebih dari apa yang ditetima,” kesalnya.

Terkait pengganti Nahumarury, Asghar memastikan manajemen telah berkomitmen akan menggunakan pelatih lokal karena berkompetisi di Indonesia maka manajemen ingin prestasi anak negeri diakui.

“Kita akan menggunakan pelatih lokal, secara internal kita sudah bicarakan dan akan kita umumkan pada akhir bulan Juli nanti. Jadi nanti namanya sekuat resmi maupun komposisi tim pelatih dan direktur secara bersamaan,” tegasnya.

Siwalimanews berupaya meminta tanggapan lebih jauh perihal pemecatan Imran, namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban dari mantan pemain nasional itu.(S-20)

 

BERITA TERKAIT