AMBON, Siwalima.id - Pemerintah Provinsi Maluku terus berupaya, untuk memperkuat nilai-nilai toleransi antara agama ditengah kehidupan masyarakat Maluku yang majemuk.
Upaya memperkuat nilai toleransi ini dilakukan, bahkan diimplementasikan dengan dimasukkan kedalam kurikulum sebagai upaya membangun karakter, peserta didik agar bersikap saling menghargai sejak usia dini.
Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah Maluku Sadli Ie pada seminar penguatan karakter bangsa dengan tema Penguatan karakter bangsa untuk mendukung asta cita dalam semangat hidup orang basudara melalui pendekatan literasi keagamaan lintas budaya yang berlangsung di Lantai VII Kantor Gubernur, Kamis (12/2).
Seminar yang dilakukan ini kata sekda, bertujuan agar masyarakat di Maluku, termasuk para siswa tetap hidup secara berdampingan berlandaskan martabat kemanusiaan dan rasa saling percaya.
Penguatan toleransi telah sesuai asta cita presiden, yakni pembangunan SDM dan pendidikan karakter yang berfokus pada penguatan kehidupan yang harmonis, dengan peningkatan toleransi antar umat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
“Di Maluku kita punya warisan leluhur yang luar biasa, yaitu semangat hidup orang basudara. ini bukan hanya slogan, tapi jati diri kita orang Maluku, artinya perbedaan agama dan suku bukan pemisah, melainkan perekat,” ucap sekda.
Sekda mengaku, tantangan zaman saat ini, menuntut masyarakat untuk tidak sekedar hidup berdampingan, saling memahami, namun yang terpenting adalah saling menghargai satu sama lain.
Pada posisi ini, sangat penting literasi keagamaan lintas budaya yang perlu ditanamkan di sekolah-sekolah sejak dini, agar merupakan kunci karakter hidup orang basudara yang dilandasi dengan rasa hormat dan empati.
Akademisi, tokoh agama, kaum muda, dan para siswa harus menjadi duta perdamaian yang cerdas secara keagamaan dan dewasa secara kultural untuk mewujudkan masyarakat Maluku yang maju, adil dan sejahtera menyongsong Indonesia emas 2045 par Maluku Pung Bae.
“Mari terus rawat persaudaraan lewat pendekatan budaya orang Maluku, potong di kuku rasa di daging, dari katong samua untuk Maluku dan Maluku untuk Indonesia,” ucap sekda.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku, Sarlota Singerin pada kesmepatan yang sama mengaku, saat ini penerapan pendidikan toleransi masih terbatas pada sekolah-sekolah dengan komunitas yang sama, yakni sekolah Muslim di bawah Yayasan Sombar dan sekolah Kristen di bawah Yayasan Sitanala.
Namun kedepan, anak-anak di sekolah harus diisi dengan hal-hal positif yang membantu membentuk karakter cinta damai dan berjiwa toleran.
“Pendidikan toleransi akan kita sisipkan dalam kurikulum melalui program pendidikan damai agar implementasinya para siswa diajarkan oleh guru agama untuk memahami dan menghargai orang lain yang memiliki latar belakang berbeda, meskipun berada dalam lingkungan sekolah dengan komunitas seagama,” janji Singerin.(S-20)