AMBON, Siwalima.id – Penurunan debit air, menjadi penyebab utama terganggunya pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat di kawasan Batu Gajah.
Hal ini diketahui, saat Direktur Perumda Tirta Yapono, Pieter Saimima, melakukan kunjungan lapangan ke kawasan tersebut untuk meninjau langsung kondisi distribusi air bersih yang dikeluhkan warga Batu Gajah.
Hal itu disampaikan Saimima kepada Siwalima.id,usai melakukan pengecekan pada sejumlah titik sumber air di kawasan Batu Gajah dan Kusu-Kusu, Selasa (21/4).
Dalam kunjungan itu, Saimima didampingi Ketua Fraksi PDIP DPRD Kota Ambon, Lucky Upulatu Nikijuluw, serta sejumlah staf Perumda Tirta Yapono.
Saimima menjelaskan, sumur yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara maksimal.
“Setelah kami kaji, debit air dari sumur mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sumber tersebut tidak mampu menyuplai kebutuhan hingga 700 kubik. Bahkan, proses pengisian yang biasanya memakan waktu 18 hingga 20 jam, saat ini tidak bisa mencapai kapasitas penuh,” ungkap Saimima.
Sebagai langkah antisipasi kata Saimima, pihaknya akan melakukan koneksi jaringan air dari sumber lain guna menambah pasokan ke wilayah terdampak.
“Kami akan menghubungkan jaringan dari sumber lain ke sistem yang ada di Batu Gajah. Dengan perhitungan yang sudah kami lakukan, pengisian 700 kubik bisa dicapai hanya dalam waktu sekitar 10 jam. Jika ditambah suplai dari sumber lain, maka distribusi air akan jauh lebih optimal dan kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi,” tandas Saimima.
Langkah tersebut kata Simaima, merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Ambon dalam memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Kami tidak hanya ingin masyarakat mendapatkan air, tetapi kebutuhan mereka harus benar-benar terpenuhi. Ini adalah komitmen bersama dengan pak walikota, dimana air bersih menjadi prioritas utama,” ucap Saimima.
Ia menegaskan, Perumda Tirta Yapono menargetkan perbaikan jaringan tersebut dapat segera terealisasi dalam waktu dekat.
“Jika tidak ada kendala di lapangan, kami targetkan awal hingga pertengahan Mei jaringan ini sudah bisa terkoneksi dan berfungsi dengan baik,” janji Saimima.
Selain perbaikan jaringan menurut Saimima, Perumda Tirta Yapono juga menyiapkan langkah jangka panjang guna mengantisipasi musim kemarau yang berpotensi memperparah krisis air bersih.
“Kami melihat sendiri bahwa penurunan debit air sangat berpengaruh terhadap distribusi. Karena itu, kami merencanakan pembangunan sumur dalam di sekitar jaringan distribusi sebagai solusi jangka panjang,” tutur Saimima.
Ia menyebutkan, hingga tahun 2027 mendatang, pihaknya menargetkan pembangunan sekitar 10 sumur dalam, dengan 4 hingga 5 sumur akan direalisasikan pada tahun 2026.
Langkah ini penting, agar target Pemerintah Kota Ambon dalam memenuhi kebutuhan air bersih bagi sebagian besar masyarakat pada tahun 2030 dapat tercapai. Namun demikian, tantangan lain yang mempengaruhi ketersediaan air, yakni alih fungsi lahan dan pembangunan permukiman yang tidak terkontrol.
“Lahan vegetasi yang semakin berkurang akibat pembangunan permukiman sangat memengaruhi ketersediaan air. Contohnya di Batu Gajah, dulu tidak pernah terjadi kekeruhan air saat hujan, namun setelah pembangunan, kondisi itu mulai berubah,” papar Saimima.
Untuk itu ia berjanji, akan berkoordinasi dengan instansi terkait, agar pembangunan ke depan tetap memperhatikan keberadaan jaringan air bersih.
“Kami akan berkoordinasi dengan dinas terkait, khususnya dalam penerbitan izin pembangunan, agar jaringan pipa air bersih yang sudah ada dapat dilindungi. Jaringan ini merupakan infrastruktur vital yang harus dijaga bersama,” tandas Saimima.
Saimima berharap, mendapat dukungan penuh dari masyarakat agar proses pembangunan dan perbaikan jaringan dapat berjalan lancar.
“Kami yakin semua orang membutuhkan air. Karena itu, kami berharap masyarakat dapat mendukung pekerjaan ini agar tidak ada hambatan di lapangan nantinya,” harap Saimima.(Mg-1)