AMBON, Siwalimanews â Ratusan siswa SD dan TK di Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat mengalami keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (20/10).
Walau fakta di lapangan demikian, tapi Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Regional Maluku dan Maluku Utara membela Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Waimital, dengan alasan penyiapan menu MBG telah sesuai dengan standar operasional prosedur.
Kepala KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara Rosita, mengatakan hal ini pasca ratusan siswa di SBB mengalami keracunan usai mengkonsumsi MBG.
Rosita membenarkan adanya kejadian ratusan siswa yang dibawah lari ke puskesmas usai mengkonsumsi MBG, namun bukan disebabkan oleh belatung di makanan mereka.
“Tidak ada belatung yang ditemukan dalam makanan. Makanya untuk kepastian penyebabnya kita harus tunggu hasil pengujian di laboratorium,” ucap Rosita kepada Siwalimanews melalui telepon selulernya, Selasa (21/10).
Tak hanya itu, Rosita juga beralibi jika dari sisi higienitas dapur MBG telah sesuai dengan SOP, sehingga KPPG tidak dapat menarik kesimpulan lebih awal sebelum hasil laboratorium keluar.
Pasca kejadian ini, KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara telah mengambil tindakan tegas terhadap SPPG Waimital, yang sebelumnya memproduksi MBG.
“Untuk sementara SPPG Waimital itu kita tutup sambil menunggu hasil laboratorium baru kita tahu penyebabnya apa,” bebernya.
Ditanya terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang wajib dikantongi semua SPPG, Rosita mengaku, jika memang SPPG Waimital dan beberapa SPPG lain di Maluku belum memiliki sertifikat tersebut.
Sertifikat SLHS, merupakan dokumen wajib bagi dapur program MBG untuk menjamin makanan yang dihasilkan aman, sehat dan higienis, artinya sertifikat ini bukti jika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi.
Menurutnya, belum adanya sertifikat SLHS pada dapur SPPG, lantaran aturan terkait wajib SLHS baru diterbitkan pad 8 Oktober lalu, sehingga semua SPPG sementara mengurus sertifikat tersebut.
“Aturan soal sertifikat SLHS itu baru dikeluarkan jadi banyak SPPG masih mengurus, tapi saya pastikan dapur SPPG sudah sesuai dengan SOP,” cetus Rosita.
Rosita pun memastikan, pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih jauh terkait persoalan tersebut sebelum mengantongi hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi siswa.(S-20)