SIWALIMA.id > Berita
SBB Geger, Jumlah Siswa Keracunan MBG Bertambah, Balai POM Uji Sampel
Daerah , Headline | Kamis, 23 Oktober 2025 pukul 02:47 WIT

AMBON, Siwalimanews – Kalau sehari sebelumnya hanya 100 orang siswa yang terdampak, kini jumlah siswa keracunan naik menjadi 225 orang.

Bikin geger. Dalam se­hari, jumlah siswa keracu­nan Makan Bergizi Gratis, di Kabupaten Seram Ba­gian Barat naik lebih dari seratus persen.

Bertambahnya jumlah siswa keracunan tersebut sesuai data yang dihim­pun Siwalima di Puskes­mas Waimital 73 siswa, se­dangkan puskesmas Kai­ratu 156 siswa. Sehingga total siswa yang alami keracunan sebanyak 229 siswa mulai dari tingkat TK, SD dan SMA.

Pantauan Siwalima, ber­tambahnya korban saat para siswa dilarikan ke Puskesmas Kairatu dan Pus­kesmas Waimital un­tuk menja­lani perawatan karena merasakan pusing dan mual-mual.

Kadis Pendidikan dan Ke­buda­yaan SBB, Sunnah Umaya Patty saat dikon­firmasi Siwalima melalui tele­pon selulernya, Selasa (2/10) mem­be­nar­kan jumlah siswa yang mengalami keracunan bertambah.

“Sebelumnya hanya mencapai 100, tetapi di hari kedua bertambah sebanyak 229 orang. Keracunan ini bukan saja siswa TK, SD, tetapi juga siswa SMA. Semua siswa saat ini sudah ditangani dan menjalani perawatan di Puskesmas Kairatu dan Puskesmas Waimital,” ujarnya.

Kadis menambahkan, data 229 siswa ini masih bersifat sementara, jika sudah valid maka akan disampai­kan. “Saat ini saya hanya sampaikan data sementara, apabila data sudah valid, saya akan sampaikan,” ucapnya.

Bupati SBB, Asri Arman yang dikonfirmasi Siwalima sementara melakukan kunjungan kerja di Desa Manipa, dihubungi melalui telepon selulernya namun tidaklah aktif.

BPOM Uji Sampel

Sementara itu, Juru Bicara Pem­prov Maluku, Kasrul Selang meng­ung­kapkan, saat ini Balai Pemerik­saan Obat dan Makanan sudah mengambil sampel menu MBG untuk diuji.

Disisi yang lain, lanjut mantan Sekda Maluku ini, pihak kepolisian SBB melakukan investigasi

“Saat ini polisi sementara inves­tigasi kemudian Badan Gizi Nasional (BGN) sementara periksa, tetapi BGN melalui satuan satuan yang diba­wahnya ada SPPG punya SOP yang cukup ketat. Jadi kalau ada masalah dan dicurigai berarti itu yang terjadi masalah, dan sementara diinvesti­gasi oleh polisi disana dan sampel­nya telah dikirim ke Balai POM,” ujar Kasrul saat dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (21/10) malam.

Kasrul mengatakan, pihaknya membangun koordinasi Pemda SBB dan pihak-pihak terkait lainnya.

“Dari sisi Pemda terhadap SOP itu kita hanya boleh berkoordinasi, kita tidak bisa intervensi, biasanya kalau ada masalah seperti ini dapurnya ditutup 2 minggu sambil menunggu hasil investigasi maupun pengujian labnya, dan tentunya kita akan panggil mereka,” ujar Kasrul

Kasrul meminta masyarakat untuk tetap tenang sambil menunggu hasil investigasi kepolisian maupun hasil uji lab dari Balai POM.

“Masyarakat diminta tenang dan jangan panik, kita belum tahu masa­lahnya dari mana,  sampai menunggu hasil investigasi polisi dan Balai POM, kita akan sampaikan ke publik juga. Yang jelas kita akan tangani keadaan luar biasanya, kita juga akan koordinasi dengan kabupaten dan pihak pihak terkait,” harapnya.

Sesuai SOP

Sedangkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Regional Maluku dan Maluku Utara beralibi penyiapan Makanan Bergizi Gratis telah sesuai dengan Standar Opera­sional Prosedur (SOP).

Alibi ini diungkapkan Kepala KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara, Rosita pasca ratusan siswa di Seram Bagian Barat mengalami keracunan usai mengkonsumsi MBG, Senin (20/10).

Rosita membenarkan adanya ke­jadian ratusan siswa yang dibawah lari ke puskesmas usai mengkon­sumsi MBG, namun bukan disebab­kan oleh belatung. “Tidak ada belatung yang ditemu­kan dalam makanan. Makanya untuk kepastian penyebabnya kita harus tunggu hasil pengujian di labora­torium,” ucap Rosita kepada Siwa­lima melalui telepon selulernya, Selasa (21/10).

Tak hanya itu, Rosita juga beralibi jika dari sisi higienitas dapur MBG telah sesuai dengan SOP, sehingga KPPG tidak dapat menarik kesim­pulan lebih awal sebelum hasil laboratorium keluar.

Diakuinya pasca kejadian ini, KPPG Regional Maluku dan Maluku Utara telah mengambil tindakan tegas terhadap SPPG Waimital yang sebelumnya memproduksi MBG.

“Untuk sementara SPPG Waimital itu kita tutup sambil menunggu hasil laboratorium baru kita tahu penye­babnya apa,” bebernya.

Ditanya terkait Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang wajib dikantongi semua SPPG, Rosita mengaku jika memang SPPG Waimital dan beberapa SPPG lain di Maluku belum memiliki sertifikat tersebut.

Sertifikat SLHS merupakan doku­men wajib bagi dapur program MBG untuk menjamin makanan yang dihasilkan aman, sehat dan higienis artinya sertifikat ini bukti jika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG telah memenuhi standar kebersihan dan sanitasi.

Menurutnya, belum adanya sertifikat SLHS pada dapur SPPG lantaran aturan terkait wajib SLHS baru diterbitkan pada 8 Oktober lalu sehingga semua SPPG sementara mengurus sertifikat tersebut.

“Aturan soal sertifikat SLHS itu baru dikeluarkan jadi banyak SPPG masih mengurus, tapi saya pastikan dapur SPPG sudah sesuai dengan SOP,” cetus Rosita.

Rosita pun memastikan pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih jauh terkait persoalan tersebut sebelum mengantongi hasil ujian labolatorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi siswa.

Desak Tindak Tegas

Anggota Komisi II DPRD SBB, La Ode Anwar Tiha menilai ratusan siswa yang diduga alami keracunan ini menjadi bukti lemahnya peng­awasan terhadap proses penyediaan makanan di lapangan.

“Kami menuntut agar Pemerintah Kabupaten SBB dan aparat penegak hukum turun tangan melakukan investigasi untuk mencari tahu apa penyebab pastinya,” ujar Tiha dalam rilisnya, Selasa  (21/10).

Ia menegaskan, dapur penyedia makanan yang diduga menjadi sumber masalah harus diberikan sanksi tegas, bahkan bisa diproses secara pidana bila terbukti lalai. “Ini bukan kasus sepele karena menyangkut keselama­tan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa,” tegasnya.

Tiha meminta agar kejadian ter­sebut segera dievaluasi secara me­nyeluruh. Dapur penyedia makanan yang terbukti menyebabkan keracu­nan, menurut dia, tidak cukup hanya diberikan teguran tetapi harus dikenai sanksi berat.

“Jika terbukti dapur penyedia MBG yang lalai, selain kontraknya diputus penyedia juga harus bertanggung jawab secara hukum,” kata Tiha.

Ia menambahkan, aparat kepoli­sian diminta tidak menyepelekan kasus ini, meskipun jumlah korban yang dilaporkan hanya sekitar 100 siswa.

“Ini menyangkut kesehatan dan keselamatan siswa. Jadi jumlah ini jangan dianggap kecil,” ujarnya.

Menurut Tiha, kasus ini seha­rusnya menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah agar mem­perketat standar penyediaan maka­nan bergizi bagi siswa di seluruh wilayah SBB.

“Sebagai catatan penyedia maka­nan di sekolah harus benar-benar profesional dalam menjaga standar kebersihan, kualitas bahan pangan hingga proses pengolahan dan pe­ngemasannya,” ucapnya.

Kasus keracunan massal akibat program MBG ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terkait pelaksanaan program tersebut di sejumlah daerah di Maluku.

Belatung Lagi

Belum lupa dari ingatan kita soal kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa para siswa di MBD, Tual dan Kota Ambon, kasus yang sama kini kembali terjadi di Kabupaten Seram Bagian Barat, Senin (20/10).

Ratusan siswa ini, dari berbagai SD dan TK di Kecamatan Kairatu, Kabu­paten Seram Bagian Barat, rata-rata dilaporkan mengalami gejala mual, muntah, diare dan pusing, setelah diduga selesai meng­konsumsi Makan Bergizi Gratis yang dibagikan di sekolah.

“Setelah selesai konsumsi MBG tak lama kemudian ada yang mual dan muntah serta pusing dan sete­lah kita perhatikan ternyata di menu yang disajikan dalam MBG itu ada belatung serta sudah bau,” beber beberapa guru yang mendampingi siswa mereka kepada Siwalima di Puskesmas Kairatu, Senin (20/10).

Sementara itu informasi yang dihimpun Siwalima di Puskesmas Kairatu, disebutkan para siswa yang mengalami keracunan ini berasal dari SDN Hatusua, SDN Waipirit, SDN Kairatu, SDN Waemital, dan TK Talaga Kairatu serta MI 2 Kairatu.

Puluhan siswa/siswi ini langsung dilarikan ke Pukesmas Kairatu dan Puskesmas Waimital untuk menda­patkan pertolongan medis.

Kejadian ini, sontak menimbulkan kepanikan dan kesedihan di kala­ngan orang tua siswa dan masya­rakat Kecamatan Kairatu, dimana para orang tua siswa bergegas men­datangi puskesmas untuk memasti­kan kondisi anak-anak mereka.

Bahkan ada orang tua yang me­neteskan air mata, saat saat meng­unjungi anak-anak mereka yang terbaring lemas di Puskesmas.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Seram Bagian Barat, Suhna Umayah Patti saat dikonfir­masi Siwalima, di Puskesmas Kai­ratu, Senin (20/10) membenarkan adanya peristiwa keracunan MBG yang menimpa sejumlah siswa di Kecamatan Kairatu.

“Hingga saat ini siswa yang me­ngalami keracunan bisa mencapai ratusan orang, karena sampai saat ini sudah mencapai 90 sekian siswa dan kemungkinan masih bisa ber­tambah, karena siswa masih terus berdatangan, karena mereka merasa pusing, dan mual,” beber Patti.

Untuk saat ini kata Patti, pihaknya belum bisa memastikan jumlah ke­seluruhan siswa yang mengalami keracunan karena masih didata, bah­kan masih ada yang berdatangan, sehingga kemungkinan yang meng­alami keracunan bisa mencapai ratusan orang.

Pihak dinas mengetahui adanya peristiwa keracunan ini dari para guru dan dirinya langsung  lang­sung memerintahkan stafnya untuk turun ke lapangan melakukan pen-dataan serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan penanganan.

“Informasi awal terjadinya keracu­nan ini diterima dari para guru yang menyebutkan, bahwa ada beberapa SD dan satu TK di Kecamatan Kairatu mengalami keracunan usai mengkonsumsi MBG,” jelas Patti.

Ia menuturkan, berdasarkan lapo­ran dari para guru, makanan bergizi gratis tersebut diduga mengandung belatung (ulat kecil) dan menge­luarkan bau tidak sedap.

“Kami sangat menyesalkan keja­dian ini dan akan segera melakukan investigasi mendalam untuk menge­tahui penyebab pasti keracunan ini,” tegas Patti.

Terpisah, Kepala Dinas Keseha­tan Kabupaten SBB Geriman Kur­niawan mengaku, belum dapat mem­berikan keterangan, sebab masih sibuk me­nangani para siswa yang keracunan.

“Saat ini kami masih fokus mem­berikan penanganan medis kepada para siswa. Mohon bersabar, nanti akan kami berikan informasi lebih detail,” ucap Kurniawan.

Sebelumnya diberitakan, tiga wilayah di Provinsi Maluku bikin geger dengan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis, banyak siswa yang harus menjadi korban dirawat di rumah sakit setelah menyantap menu yang disajikan. (S-18/S-20/S-26)

BERITA TERKAIT