AMBON, Siwalima.id - Salah satu siswa sekolah dasar di Kota Ambon diduga mendapat perundungan dari teman-temannya viral di media sosial.
Video dengan durasi 2 menit 24 detik yang beredar pada Minggu (19/4) berisi curahan hati sang ibu terkait perlakuan yang diterima anaknya di SD 79 Ambon.
Dalam curhatan hati, ibu korban menyebut anaknya sering mendapat ucapan yang menyakitkan, seperti disebut tidak memiliki ayah, anak tukang maxim, hingga ejekan terhadap orang tua.
Sang ibu juga meminta orang tua siswa yang disebutkan dalam video tersebut agar memperhatikan persoalan itu.
Ia berharap kepala sekolah dan dewan guru turut melihat video tersebut serta segera mengambil langkah penyelesaian.
“Nasihat anak-anak itu supaya tidak buli anak saya,” ungkapnya dalam video yang beredar.
Ia juga menyampaikan agar persoalan tersebut segera ditangani sebelum dibawa ke pihak berwenang.
Unggahan itu kemudian menuai banyak komentar dari masyarakat. Salah satunya datang dari akun Facebook bernama Hehalatu Yun yang menyarankan agar persoalan tersebut sebaiknya dilaporkan langsung ke pihak sekolah.
Walikota Turun Tangan
Menanggapi masalah itu, Walikota Ambon, Bodewin Wattimena mengaku sudah mendapat laporan soal masalah yang dialami siswa SD 79 Ambon tersebut.
Orang nomor satu di Kota Ambon kemudian memerintahkan Kadis Pendidikan, Ferdinand Tasso menuntaskan kasus tersebut.
Selain itu walikota juga meminta seluruh satuan pendidikan di Kota Ambon, mulai dari PAUD, SD hingga SMP, di Kota Ambon bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap anak, termasuk tindakan perundungan.
“Kasus yang terjadi di SD 79 Ambon harus segera ditangani agar tidak berdampak lebih jauh terhadap kondisi psikologis anak,” tegas walikota walikota ketika dikonfirmasi Siwalima di Balai Kota, Senin (20/4).
Menurutnya, dunia pendidikan formal seharusnya menjadi tempat yang menjamin kualitas pembelajaran, pembinaan mental, serta pembentukan karakter anak.
“Dunia pendidikan formal ini kan menjamin kualitas pendidikannya, pembinaan mentalnya, karakter anak-anak. Bukan sebaliknya karakter anak-anak ini dihancurkan,” tegasnya.
Dirinya menginginkan agar satuan pendidikan di Kota Ambon, khususnya PAUD, SD dan SMP, bebas dari tindakan kekerasan terhadap anak
Dunia pendidikan formal seharusnya menjadi tempat yang menjamin kualitas pembelajaran, pembinaan mental, serta pembentukan karakter anak.
“Dunia pendidikan formal ini kan menjamin kualitas pendidikannya, pembinaan mentalnya, karakter anak-anak. Bukan sebaliknya karakter anak-anak ini dihancurkan,” tegasnya.
Selain pihak sekolah, ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak membanding-bandingkan anak maupun melontarkan ancaman yang dapat berdampak buruk terhadap perkembangan mental anak.
“Termasuk para orang tua jangan membanding-bandingkan, jangan mengancam, karena itu akan mepengaruhi psikologi anak,” ujarnya.
Sementara itu Kadis Pendidikan Kota Ambon Ferdinand Tasso mengaku kasus yang menimpa siswa SD 79 sudah diselesaikan.
“Tim pencegahan penanganan kekerasan di SD 79 yang didampingi pengawas sekolah, saya juga hadir dan kami sudah selesaikan bullying ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan adalah menemui pihak korban untuk mendengar seluruh keluhan sekaligus memberikan dukungan moral kepada anak dan keluarganya.
“Tahap pertama kita sudah bertemu dengan pihak korban, mendengar masukan, memberikan motivasi dan semangat kepada anak korban maupun orang tuanya,” ujarnya.
Ia menyebut apabila ada masalah yang terjadi kepada anak, orang tua seharusnya melaporkan ke wali kelas.
“Kalau ada masalah, sampaikan ke wali kelas supaya bisa diselesaikan. Ini yang ke depan harus diperbaiki,” ujarnya.
Dari hasil mediasi dengan dua pihak, ia menyebut masalah ini selesai setelah dilakukan kesepakatan berdamai
“Hasil mediasi, kedua belah pihak sepakat berdamai dan saling memaafkan,” tandasnya.(Mg-1)