AMBON, Siwalima.id - Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon memastikan sampai dengan saat ini capaian imunisasi tahun 2025 masih berada dibawah target nasional.
Dari sasaran sebesar 80 persen, realisasi yang berhasil dicapai baru sekitar 71 persen.
“Masih ada orang tua yang enggan membawa anak ke posyandu karena pemahaman lama, seperti kepercayaan bahwa bayi belum boleh keluar rumah sebelum 40 hari,” jelasnya ketika dikonfirmasi Siwalima di Balai Kota, Jumat (24/4).
Alasan lain belum mencapai target imunisasi nasional karena ada juga kekhawatiran setelah imunisasi anak mengalami demam, sehingga mereka tidak kembali untuk imunisasi lanjutan.
Rendahnya capaian juga dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari persoalan sosial, budaya, hingga tingginya mobilitas penduduk di wilayah perkotaan.
Ia menjelaskan, kondisi kesehatan anak juga menjadi salah satu faktor penghambat. Anak yang sedang sakit tidak dapat menerima imunisasi sesuai jadwal dan seringkali orang tua tidak melanjutkan imunisasi setelah anak kembali sehat.
“Kalau anak sakit, jadwal imunisasi tertunda. Tetapi banyak yang tidak kembali lagi untuk melanjutkan, sehingga cakupan menjadi rendah,” katanya.
Selain itu, tingginya mobilitas warga Kota Ambon juga berdampak pada data sasaran imunisasi.
Banyak keluarga muda atau mahasiswa yang setelah melahirkan memilih mengirim bayinya ke kampung halaman, sementara data anak tersebut sudah tercatat sebagai sasaran di Ambon.
“Ini menyebabkan data sasaran tetap tercatat di Ambon, tetapi anaknya sudah tidak berada di wilayah ini. Akibatnya capaian terlihat rendah karena tidak semua sasaran bisa dijangkau,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan pelayanan posyandu telah berjalan cukup maksimal. Para kader dan tenaga kesehatan terus aktif melakukan pelayanan serta pemantauan di lapangan.
Menurutnya, tantangan utama saat ini terletak pada kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap pentingnya imunisasi bagi anak. Untuk mengatasi persoalan itu, dinas mendorong kolaborasi lintas sektor.
Melalui kegiatan yang melibatkan akademisi, termasuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dilakukan penelitian di tiga provinsi yakni Aceh, Banten dan Maluku, dengan fokus wilayah Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah.
“Hasilnya menunjukkan Ambon memang lebih baik dibanding Maluku Tengah, tetapi tetap belum mencapai target. Karena itu diperlukan kerja sama multisektoral,” harapnya.
Ia menekankan pentingnya keterlibatan sektor pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi PKK, hingga kader posyandu dalam meningkatkan pemahaman masyarakat soal imunisasi.(Mg-1)