SIWALIMA.id > Berita
Melayari Nalar Baru Inovasi Kemaritiman Indonesia
Opini | Senin, 4 Mei 2026 pukul 12:42 WIT

BAGI sebuah bangsa yang 77% wilayahnya adalah perairan, frasa 'hidup bersama samudra' bukanlah sekadar sentimen puitis, melainkan sebuah keniscayaan geopolitik dan ekonomi. Indonesia berada di jantung keanekaragaman hayati laut global; rumah bagi 37% spesies laut dunia dan 18% terumbu karang bumi. Namun, selama berpuluh tahun, pendekatan kita terhadap laut cenderung bersifat ekstraktif, sekadar mengambil apa yang tersedia, alih-alih mengelola apa yang kita miliki dengan sentuhan inovasi.

Untuk merebut kembali status sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus bertransformasi dari ekonomi maritim tradisional menuju ekonomi biru Nusantara. Transformasi ini membutuhkan lebih dari sekadar pergeseran kebijakan; ia menuntut 'perkawinan' antara sains, inovasi, dan kewirausahaan.

PILAR INOVASI BIRU

Strategi inovasi biru dibangun di atas dua pilar transformatif: proaktif dan impaktif. Strategi proaktif melibatkan proses belajar dari alam melalui biomimikri. Kita dapat mengadopsi 'strategi lumba-lumba', di mana lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) berkolaborasi menggiring mangsa dengan menciptakan gelembung-gelembung udara yang secara selektif memisahkan kawanan ikan jantan dan betina, sebagai strategi predasi berkelanjutan.

Kita juga bisa memanfaatkan mikroalga yang mampu mengikat karbon 10 hingga 50 kali lebih efektif daripada tumbuhan darat untuk kebutuhan bahan bakar nabati (biofuel) dan bioremediasi, serta tentunya mengelimi­nasi karbon dioksida sebagai agen pemanasan global lewat proses fotosistesis.

Namun, inovasi akan terasa hampa tanpa elemen manusia. Di sinilah strategi yang impaktif, dengan pendekatan kewargaan bahari (blue citizenship) menjadi vital. Kita membutuhkan marine sociopreneur. Individu yang mampu mengintegrasikan solusi teknologi dengan pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir, yang mengubah pola pikir nelayan dari buruh tradisional menjadi profesional yang dihormati, sehingga tercipta ketahanan sosio-ekologis masyarakat yang madani maritim (aquasapiens).

ARSITEKTUR PENGETAHUAN 

MARITIM (BLUE EDUCATION)

Hambatan signifikan bagi visi maritim kita ialah rendahnya investasi pendidikan serta riset dan inovasi kemaritiman. Anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) Indonesia hanya berkisar 0,36% dari PDB, jauh tertinggal dari inovator global seperti Jepang. Untuk me­mimpin panggung maritim global, kita harus men­dorong investasi ini setidaknya hingga 1% dan mene­rapkan kerangka kerja pendidikan kemaritiman (blue education) yang membumi, dengan kesadaran sebagai warga disebuah negri yang bahari.

Praktisnya, mengintegrasikan literasi kelautan dan keberlanjutan kelautan ke dalam kurikulum sekolah untuk menumbuhkan kewarganegaraan yang sadar akan kelautan (ocean-consious citizenship). Strategi ini melibatkan pembangunan fondasi maritim sejak usia dini, memastikan generasi mendatang dilengkapi dengan 'Arsitektur Pendidikan Madani Bahari' yang diperlukan untuk pengelolaan laut yang baik agar samudra kita sehat (heatly ocean), produktif (productive ocean) dan menyejahterakan (wealtly ocean).

Pendidikan Biru ini harus didesentralisasikan melalui pembentukan Universitas Maritim Tematik yang dise­suaikan dengan potensi unik wilayah. Kita bisa imajinasikan adanya Universitas Maritim Sumatra yang berfokus pada logistik dan perdagangan, Institut Maritim Jawa untuk kebijakan dan diplomasi, serta Universitas Perikanan Sulawesi yang spesialis dalam akuakultur berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, keahlian teknis harus dipupuk di Institut Teknologi Maritim Papua untuk pembuatan kapal, dan Pusat Oseanografi Maluku untuk studi iklim. Arsitektur ini memastikan inovasi berakar pada potensi lokal.

Di luar ruang kelas, arsitektur riset samudra mem­butuhkan infrastruktur fisik. Indonesia memerlukan setidaknya satu kapal riset (RV) untuk setiap 11 wilayah pengelolaan perikanan (WPP). Kita juga membutuhkan empat kapal riset khusus untuk zona ekonomi eksklusif (ZEE) di dua samudra (Hindia dan Pasifik), serta lima kapal riset untuk area landas kontinen guna mengum­pulkan big data yang esensial bagi manajemen kelautan modern. Tanpa fondasi berbasis sains, kita akan tetap 'buta dan tuli' dalam mengelola perairan kita. Sebagai­mana pepatah Latin mengatakan, Scientia potentia est, pengetahuan adalah kekuatan.

EKONOMI BIRU

Potensi ekonomi sektor biru kita sangat mencengang­kan, diperkirakan mencapai US$1,33 triliun per tahun (Peta Jalan Ekonomi Biru Indonesia - Bappenas). Dari 11 sektor yang ada, sektor perikanan tangkap dan budi daya penting menjamin ketahanan pangan dan menjaga konsumsi protein per kapita manusia Indonesia. Namun, masa depan terletak pada bioteknologi kelau­tan, yang mengandalkan keanekaragaman hayati di mana pada gilirannya menjadi keragaman molekul kimiawi yang prospektif bernilai ekonomi tinggi untuk farmasi, bioteknologi, dan industri (marine bioprospecting).

Sebagai contoh, peptida antimikroba yang diisolasi dari siput gonggong (Laevistrombus canarium sp) di Kepulauan Riau menawarkan jalan menuju antibiotik baru. Senyawa seperti Salinosporamide A dari sedimen laut dalam juga tengah diteliti untuk pengobatan kanker. Dengan fokus pada 'valorisasi', kita dapat memberi nilai tambah tinggi pada sumber daya lokal, Indonesia dapat mengubah lautnya menjadi 'apotek raksasa' bagi dunia.

MASA DEPAN BERKELANJUTAN

Ekonomi biru bukan sekadar soal keuntungan; ini adalah tentang kerangka 5P: Planet, People, Prosperity, Peace, and Partnership (Planet, Manusia, Kesejah­teraan, Perdamaian, dan Kemitraan). Hal ini mendukung hampir seluruh Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, mulai dari penggunaan mangrove sebagai penyerap karbon biru (SDG 13) hingga memastikan hak-hak nelayan tradisional dan mencegah konflik maritim melalui manajemen berkelanjutan bersama.

Pepatah Latin kuno mengingatkan kita: 'Navigare ne­cesse est, vivere non est necesse' —mengarungi lautan adalah keharusan. Bagi Indonesia, berlayar menuju masa depan membutuhkan keberanian untuk berinovasi dan kearifan untuk melindungi warisan akuatik kita. Dengan memberdayakan para marinesociopreneur dan berinvestasi pada ekonomi biru yang berbasis sains, kita memastikan kejayaan maritim bukan sekadar catatan dalam buku sejarah, melainkan realitas yang hidup bagi generasi mendatang.Oleh: Agung Dhamar Syakti Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Kepulauan Riau.(*)

BERITA TERKAIT