KEPUTUSAN Presiden Prabowo Subianto mengganti pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 Juni 2026 menjadi salah satu langkah politik dan administratif paling mengejutkan tahun ini. Kepala BGN, Dadan Hindayana, bersama dua wakilnya diberhentikan dan digantikan oleh Nanik Sudaryati Deyang, didampingi Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono. Pemerintah menyebut pergantian ini sebagai hasil evaluasi selama hampir 1,5 tahun terhadap kinerja lembaga tersebut.
Banyak pihak melihat pergantian ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Ini adalah bentuk shock therapy atau terapi kejut yang digunakan Presiden Prabowo untuk mengirimkan pesan kuat kepada birokrasi bahwa program prioritas negara tidak boleh berjalan dengan standar biasa-biasa saja. Bahkan sebelumnya pada saat memperingati Hari Lahir Pancasila, Presiden Prabowo sudah memperingatkan, dengan mengatakan, “Kita harus berani ambil keputusan yang benar walaupun sulit.”
BGN merupakan lembaga yang bertanggung jawab menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu janji politik utama Prabowo sejak kampanye Pilpres 2024. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Hingga Mei 2026, program MBG dikabarkan telah menjangkau sekitar 62 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Angka tersebut menjadikannya salah satu program sosial terbesar dalam sejarah Indonesia modern.
Namun, skala besar selalu membawa risiko besar. Dalam beberapa bulan terakhir muncul berbagai laporan mengenai kualitas makanan, pengawasan dapur MBG, prosedur operasi standar (SOP), hingga tata kelola rantai pasok. Beberapa dapur bahkan sempat dihentikan sementara untuk perbaikan kualitas layanan. Karena itu, pergantian pimpinan BGN dapat dibaca sebagai upaya Presiden memastikan program unggulannya tidak mengalami penurunan kredibilitas sebelum mencapai fase ekspansi yang lebih luas.
TERAPI KEJUT DAN MOMENTUM PERBAIKAN
Dalam ilmu manajemen publik, terapi kejut digunakan ketika pemimpin ingin memutus pola lama yang dianggap tidak lagi efektif. Pergantian dilakukan secara cepat dan tegas agar organisasi menyadari bahwa status quo tidak dapat dipertahankan.
Hasil evaluasi yang dilakukan Presiden menyoroti masalah kedisiplinan dalam menjalankan SOP, tata kelola organisasi, dan pengawasan kualitas makanan. Bahkan terdapat audit internal terkait berbagai persoalan keuangan dalam pelaksanaan program.
Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas. Di mata Presiden, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga kualitas layanan, akuntabilitas anggaran, dan kepatuhan terhadap standar operasional.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada lembaga yang kebal evaluasi, termasuk lembaga yang menjalankan program unggulan pemerintah. Tentunya tidak berhenti pada BGN, tetapi ke semua kementerian atau lembaga (K/L).
Dalam administrasi publik modern, keberhasilan program sering kali ditentukan oleh kualitas kepemimpinan. Anggaran besar dan dukungan politik yang kuat tidak otomatis menghasilkan layanan publik yang baik apabila tata kelola lemah. Pergantian Kepala BGN menunjukkan bahwa Prabowo mengadopsi pendekatan performance-based governance, yaitu kepemimpinan yang menempatkan kinerja sebagai dasar utama evaluasi pejabat publik.
Pendekatan ini sebenarnya sejalan dengan praktik yang diterapkan di berbagai negara. Di Korea Selatan, Singapura, maupun Tiongkok, pejabat yang gagal memenuhi target strategis sering kali diganti tanpa menunggu berakhirnya masa jabatan. Tujuannya bukan sekadar menghukum individu, tetapi memastikan organisasi tetap fokus pada hasil. Dalam konteks Indonesia, pesan tersebut penting karena birokrasi sering kali terjebak pada orientasi prosedural dan kurang fokus pada outcome.
Pergantian pimpinan seharusnya tidak dimaknai sebagai kegagalan total BGN. Pemerintah sendiri memberikan apresiasi kepada pimpinan sebelumnya yang telah membangun fondasi awal lembaga dan menjalankan tahap awal MBG. Justru karena fondasi telah dibangun, tantangan berikutnya ialah meningkatkan kualitas implementasi. Langkah cepat ini juga menunjukkan Presiden ingin memperbaiki tata kelola dan kepemimpinan pada BGN.
Selain terapi kejut, pergantian ini juga merupakan ujian bagi gaya kepemimpinan Prabowo sendiri. Sejak awal pemerintahannya, Prabowo dikenal mengedepankan disiplin, efektivitas, dan orientasi hasil. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya birokrasi yang cepat dan responsif terhadap kebutuhan rakyat.
Jika pergantian ini diikuti perbaikan nyata dalam pelaksanaan MBG, langkah tersebut akan dipandang sebagai keputusan strategis yang tepat. Sebaliknya, jika masalah yang sama terus berulang, publik akan mempertanyakan apakah persoalannya memang terletak pada individu atau justru pada desain kelembagaan dan sistem pengawasan yang belum matang.
Karena itu, pergantian pimpinan harus diikuti reformasi organisasi dan tata Kelola keuangan yang lebih taat asas dan prosedur. Manajemen baru MBG diharapkan mampu menghentikan kebocoran anggaran. Kuncinya ada pada sistim pengawasan yang ketat terhadap dapur umum dan mitra penyedia makanan dari hulu ke hilir.
MENJAGA ASA MASA DEPAN
ANAK INDONESIA
Program MBG bukan sekadar program makan gratis. Ia merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang. Perbaikan gizi anak berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Karena itu, keberhasilan MBG akan menjadi salah satu indikator penting keberhasilan pemerintahan Prabowo dalam lima tahun ke depan.
Pergantian Kepala BGN menunjukkan bahwa Presiden tidak ingin mengambil risiko terhadap program yang menjadi simbol pemerintahannya. Ini adalah sinyal bahwa target besar harus diiringi standar pelaksanaan yang tinggi. Dalam perspektif tersebut, pergantian pimpinan BGN dapat dibaca sebagai terapi kejut yang diperlukan. Bukan untuk menciptakan kegaduhan politik, melainkan demi menegaskan bahwa pelayanan publik harus selalu berada di bawah standar akuntabilitas yang ketat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan terletak pada siapa yang menjabat Kepala BGN, melainkan apakah jutaan anak Indonesia benar-benar menerima makanan bergizi yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan. Jika tujuan itu tercapai, terapi kejut Presiden Prabowo akan dikenang sebagai keputusan yang tepat pada waktu yang tepat.Oleh: Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina.(*)