AMBON, Siwalima.id - Keberhasilan Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon tahun 2025 di bawah kepemimpinan Apries Gaspersz bukan sekadar pembersihan, melainkan lompatan menuju Ambon kota modern.
Kota dengan julukan Manise kini berevolusi dari keindahan visual menjadi pusat urban berkelanjutan, sehat, efisien, dan ramah lingkungan serta siap bersaing dengan kota-kota modern di Asia Tenggara.
Inovasi teknologi dan aksesibilitas Urban Flotilla Mini Dump Truck, merupakan solusi smart mobility. Kepada Siwalima Senin (20/4), Apries menjelaskan, hadapi topografi berbukit seperti Ambon, 10 armada mini dump truck jadi jawaban cerdas untuk jangkauan 24/7 (layanan yang aktif terus menerus yakni 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu).
Integrasi jadwal pemilahan sampah merupakan langkah penting untuk mempermudah pengelolaan sampah, mengurangi penumpukan di TPA serta mengurangi pencemaran. Dikatakan, integrasi jadwal pemilahan sampah terbagi secara merata, (basah: Senin-Rabu-Jumat kemudian kering, Selasa-Kamis-Sabtu). Hal ini secara otomatis mendukung Material Recovery Facility dan Refuse Derived Fuel atau MRF/RDF.
“Kita mencoba menciptakan layanan door-to-door seperti kota pintar Singapura, dimana dekatkan fasilitas bagi warga perbukitan tanpa TPS, dan kurangi kemacetan lalu lintas sampah.Begitupun di TPA Toisapu kita jadikan teknologi low carbon ala kota global,” ujarnya.
Menyoal tentang program Kementerian PPN/Bappenas secara aktif mendorong pembangunan dan pengembangan MRF atau fasilitas pemilahan sampah pintar untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah bernilai ekomis tinggi, menurut Apries, sangatlah penting karena program tersebut merupakan bagian dari strategi nasional untuk mempercepat transisi ke ekonomi sirkular dan mencapai target pengurangan sampah.
“Hibah Bappenas bangun MRF untuk sorting pintar sampah bernilai ekonomis, dipadu RDF dari APBD. Hanya residu landfill, perpanjang umur TPA hingga dekade mendatang,” imbuhnya.
Olehnya, komitmen Walikota Ambon, Bodewin Wattimena Ambon diselaraskan dengan standar kota modern seperti Tokyo atau Seoul menuju nol waste atau (zero waste), emisi rendah, dan ekonomi sirkular.
Untuk mencapainya paradigma kolaboratif, masyarakat sebagai aktor utama. Perubahan mindset jadi kunci. Dimana sampah bukan beban birokrasi, tapi tanggung jawab bersama.
“Seperti Kolaborasi AMGPM, remaja masjid, OKP, LSM, dan komunitas tunjukkan model gotong royong digital-era. DLHP tingkatkan kapasitas, hasilkan kota inklusif di mana warga aktif via app pelaporan sampah atau event komunitas, mirip inisiatif smart city di Bandung atau Surabaya. Dengan birokrasi agile ini, Ambon tak lagi kota tradisional, tapi metropolis hijau yang inovatif, efisien, dan berorientasi masa depan,” tandas Apries.(S-07)