AMBON, Siwalima.id - Sebanyak 7000 mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Pattimura sulit untuk membayar uang kuliah tunggal.
Hal ini menjadi sorotan Anggota VI BPK RI , Fathan Subchi saat sharing session bersama dengan Rektor Unpatti, Fredy Leiwakabessy.
Fathan dalam kesempatan itu menegaskan perlunya perhatian lebih besar terhadap perguruan tinggi, khususnya di wilayah timur Indonesia.
“Peningkatan dukungan pemerintah pusat merupakan langkah penting untuk mengatasi disparitas pembangunan yang masih terlihat nyata,” jelasnya dalam rilis yang diterima Siwalima, Rabu (3/12).
Ia menyebut peran negara dalam memperkuat pendanaan pendidikan tinggi menjadi krusial, terutama bagi universitas yang beroperasi di daerah dengan tantangan geografis dan ekonomi seperti Maluku.
Saat ini katanya ada lebih dari 7.000 mahasiswa Unpatti saat ini mengalami kesulitan dalam membayar UKT.
Sebuah kondisi yang dinilai membutuhkan intervensi kebijakan agar akses pendidikan tetap terjamin bagi seluruh lapisan masyarakat.
Selain itu, ia juga menyoroti rendahnya alokasi pendanaan pusat, khususnya terkait bantuan operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN) dan subsidi selisih antara biaya kuliah tunggal dan UKT.
“Apabila gap pendanaan tersebut dapat dijembatani, maka kualitas layanan pendidikan dan pengembangan institusi akan meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Tak hanya soal pendanaan, ia juga mendorong Unpatti untuk terus menguatkan posisinya sebagai pusat riset dan rujukan pembangunan daerah.
“Pemerintah daerah dan berbagai institusi, masih sangat membutuhkan kontribusi akademisi Unpatti dalam penyusunan kebijakan, pemodelan ekonomi, serta pendampingan teknis sektor strategis di Maluku dan kawasan timur Indonesia,” pintanya.
Rekor Tertinggi
Sementara itu, minat calon mahasiswa untuk menempuh kuliah di Universitas Pattimura tahun ajaran 2025/2025 mencatatkan rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Tahun 2025 tercatat lebih dari 19 ribu pendaftar, meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Rektor Unpatti Fredy Leiwakabessy dalam rilis yang diterima Siwalima, Rabu (3/12).
Ia menyebut dari jumlah itu sekitar 6 ribu calon mahasiswa diterima melalui jalur seleksi prestasi SNBT dan seleksi mandiri.
Menurutnya saat ini total mahasiswa Unpatti terdaftar sebanyak 35.278 dan 27.999 aktif mengikuti perkuliahan.
“Sebagian mahasiswa tercatat belum aktif karena menghadapi kendala ekonomi dan sosial,” jelasnya.
Dari aspek akademik, lanjutnya, pada 2025 sebanyak 4.915 mahasiswa dinyatakan lulus dengan IPK rata-rata 3,28 dan sekitar 10 persen diantaranya meraih predikat cumlaude.
Unpatti kini mengelola 111 program sarjana, tiga program profesi, 20 program magister dan 8 program doktoral, serta tengah menyiapkan sejumlah program vokasi baru berbasis kemaritiman.
Di bidang keuangan kata rektor hingga Oktober 2025, Unpatti membukukan realisasi pendapatan sebesar Rp199 miliar, sebagian besar berasal dari uang kuliah tunggal.
Selain itu, unit usaha kampus turut menyumbang pendapatan sebesar Rp5,6 miliar. Meski sebagian fakultas telah mencapai tingkat serapan anggaran mendekati 80 persen, beberapa unit masih memerlukan perhatian khusus karena berada di bawah target.
Dari sisi SDM, Unpatti memiliki sekitar 1.300 dosen, dengan capaian peningkatan skor maturitas kelembagaan dari 1,19 (2022) menjadi 2,77 (2025). “Masih terdapat 88 dosen yang belum memenuhi penilaian kinerja,” uraiya.
Ia juga menyoroti sejumlah program strategis yang tengah digarap, antara lain pembangunan sport center, rumah sakit pendidikan dan dental care, serta revitalisasi infrastruktur kampus. Upaya meningkatkan akreditasi unggul dan internasional terus digenjot melalui dukungan pendanaan tahunan yang telah disiapkan. (S-25)