SIWALIMA.id > Berita
Angka Kemiskinan dan Pengangguran di Ambon Turun
Daerah , Headline | Senin, 30 Maret 2026 pukul 15:40 WIT

AMBON, Siwalima.id - Badan Pusat Statistik Kota Ambon men­catat, angka kemiskinan dan pengangguran di Kota Ambon mengalami penurunan.

Tingkat kemiskinan di Kota Ambon pada tahun 2025 sudah berada dibawah angka 5 persen atau sekitar 4 hingga 4,3 persen dari total penduduk. Itu artinya, kurang dari 5 persen penduduk di Kota Ambon berada dibawah garis kemiskinan.

Kepala BPS Kota Ambon, Pauline Gas­persz menjelaskan, pengukuran kemiski­nan dilakukan berdasarkan garis kemiskinan yang dihitung dari kebutuhan konsumsi makanan dan non makanan, dimana untuk kebutuhan makanan, standar yang digunakan adalah 2.100 kalori per orang per hari, sesuai ketentuan gizi.

Sementara kebutuhan non makanan, mencakup pengeluaran dasar seperti, perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Dari hasil survei, kedua komponen tersebut kemu­dian dijumlahkan menjadi garis kemiskinan.

“Untuk Kota Ambon, garis ke­miskinan berada di atas Rp700 ribu per orang per bulan,” beber Gas­persz kepada Siwalima mela­lui telepon selulernya, Sabtu (28/3).

Penentuan status miskin me­nurut Gaspersz, dilakukan dengan menghitung rata-rata pengeluaran rumah tangga per anggota ke­luarga. Jika angka tersebut berada di bawah garis kemiskinan, maka rumah tangga tersebut dikatego­rikan miskin.

Di sisi lain, kemiskinan tidak selalu berkaitan langsung dengan pengangguran. Hal ini karena dalam konsep ketenagakerjaan, seseorang tetap dikategorikan bekerja meskipun tidak memiliki penghasilan tetap atau bekerja di sektor informal.

“Orang yang membantu orang tua, menjaga kebun, atau bekerja harian meskipun tidak digaji tetap dihitung bekerja,” jelas Gaspersz.

Kondisi ini kata Gaspersz, membuat seseorang tetap tercatat sebagai pekerja, meskipun berpo­tensi masuk kategori miskin karena pendapatannya rendah.

“Jadi, kemiskinan dan pengang­guran tidak selalu beriringan se­cara langsung,” papar Gaspersz.

Meski demikian ia menilai, penurunan angka kemiskinan dan pengangguran menjadi indikator awal, bahwa program penanggu­langan yang dijalankan peme­rintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah, berjalan efektif.

“Kalau angkanya turun, berarti program yang dilakukan cukup efektif, walaupun masih menjadi pekerjaan rumah karena angka kemiskinan dan pengangguran belum nol,” ucap Gaspersz.

Penilaian keberhasilan program ini lanjut Gaspersz, tidak bisa dilihat secara hitam-putih, meski ada penurunan, namun tantangan tetap ada, karena dinamika penduduk di Kota Ambon yang cukup tinggi.

Pergerakan penduduk sangat dinamis, karena Ambon menjadi pintu masuk dan keluar di Maluku. Ini juga mempengaruhi kondisi kemiskinan dan ketenagakerjaan. Selain itu, faktor pertumbuhan ekonomi juga turut berpengaruh. 

Pada tahun 2025, ekonomi Kota Ambon tercatat tumbuh sebesar 4,87 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 5,96 persen.

“Walaupun melambat, ekonomi tetap tumbuh dan ini berkontribusi dalam penurunan kemiskinan dan pengangguran,” tandas Gaspersz.

Gaspers berharap, trend positif ini dapat terus berlanjut, meskipun diakui bahwa mencapai angka nol untuk kemiskinan dan penga­ng­guran, merupakan tantangan besar karena dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan ekonomi.(Mg-1)

BERITA TERKAIT