SIWALIMA.id > Berita
Banyak Destinasi Wisata belum Dikelola Profesional
Daerah | Jumat, 26 Juni 2026 pukul 15:18 WIT

AMBON, Siwalima.id - Maluku memiliki destinasi wisata yang luar biasa namun masih kalah dari provinsi lain dari sisi pengelolaannya.

Dikenal sampai ke luar negeri karena kaya akan sumber daya alam, tetapi per­tumbuhan sektor wisata di Maluku dinilai masih berjalan lambat.

“Banyak destinasi belum dikelola secara profesional dan belum dito­pang ekosistem pariwisata yang kuat,” terang Kadis Pariwisata Ma­luku, Melky Lohy kepada wartawan di Ambon, Kamis (25/6).

Dijelaskan sebagai destinasi wi­sata di Maluku masih menghadapi berbagai persoalan mendasar mulai dari fasilitas yang terbatas, akses transportasi yang belum pasti.

Selain itu, tingginya harga tiket hingga pengelolaan kawasan wisata yang dinilai belum mampu memberi kenyamanan maksimal bagi wisatawan.

“Tantangan terbesar pariwisata Maluku saat ini bukan lagi sekadar memperkenalkan destinasi kepada dunia, melainkan memastikan wisa­tawan yang datang merasa nyaman, mendapatkan pengalaman berkesan, lalu kembali lagi membawa cerita tentang Maluku,” ungkapnya

Pemprov tentu memikirkan hara­pan ketika orang datang ke Maluku akan menceritakan pengalaman itu kepada orang lain dan membuat semakin banyak orang datang lagi tetapi di satu sisi jika melihat tren perkembangan wisata, pertumbu­hannya masih cukup lambat.

Menurutnya, Maluku memiliki banyak destinasi unggulan yang se­benarnya mampu bersaing dengan daerah wisata lain di Indonesia.

“Yang kita miliki seperti Banda, Pantai Pasir Panjang di Kei, Ora di Seram, Welora di Maluku Barat Daya, hingga destinasi di Buru, Buru Selatan dan Kepulauan Tanim­bar,” jelasnya.

Dari sisi pengelolaan pariwisata, Lohy mengaku pengelolaannya be­lum dilakukan secara profesional sebagai industri pariwisata karena itu .

“Pengembangan pariwisata Ma­luku ke depan tidak lagi bisa dila­kukan dengan cara-cara konvensio­nal dan parsial. Seluruh destinasi wisata harus mulai dibangun de­ngan pendekatan industri pariwisata yang terintegrasi,” tegasnya.

Ia memastikan dirinya mulai mem­bangun komunikasi dengan berbagai organisasi dan komunitas wisata seperti PHRI, ASITA, GENPI, HPI hingga komunitas diving untuk memetakan berbagai persoalan sektor wisata di Maluku.

Salah satu masalah paling men­dasar yang mempengaruhi pertum­buhan sektor pariwisata di Maluku yakni tingginya harga tiket dan lemahnya konektivitas menuju des­tinasi wisata unggulan di Maluku.

“Kalau orang mau datang menik­mati keindahan Maluku, kadang biaya perjalanan lebih mahal diban­ding ke luar negeri. Ini menjadi tantangan serius. Persoalan konekti­vitas menuju Banda, Ora dan sejumlah destinasi lainnya membuat wisatawan belum mendapatkan kepastian perja­lanan yang baik,” jelasnya.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku mulai mendorong pemba­ngu­nan ekosistem pariwisata yang lebih terintegrasi, mulai dari pengu­atan destinasi, transportasi, sumber daya manusia hingga kerja sama dengan pelaku usaha.

Ia optimistis jika seluruh pihak ber­gerak bersama membangun eko­sistem wisata yang profesional, maka Maluku tidak hanya dikenal sebagai negeri yang indah, tetapi juga menjadi destinasi unggulan yang mampu menggerakkan ekono­mi daerah.(S-20)

BERITA TERKAIT