AMBON, Siwalimanews – Maluku masih menjadi wilayah rawan konflik sosial yang terjadi dalam skala kecil maupun sedang.
Guna mengatasi itu, Polda Maluku selalu mengedepankan pendekatan persuasif berbasis kearifan lokal.
Polda Maluku selalu mengedeÂpankan pendekatan persuasif berbaÂsis kearifan lokal dalam menangani dan mencegah konflik sosial. PeÂnegakan hukum, menjadi langkah terakhir apabila upaya dialog dan mediasi tidak membuahkan hasil, terang Kabid Humas Polda Maluku Kombes Rositah Umasugi saat dialog publik yang berlangsung di RRI Ambon, Selasa (7/10).
Hadir pada saat itu sejumlah narasumber seperti Kabid KewasÂpadaan Nasional Badan Kesbangpol Linmas Provinsi Maluku Farit HaÂtala, Sosiolog Maluku Paulus Koritelu, Direktur Pascasarjana UIN AM Sangadji Ambon Hasbollah Toisuta.
âKami tidak pernah mengesamÂpingkan pranata sosial dan adat dalam setiap penyelesaian masalah. Kearifan lokal sangat membantu kami dalam mencegah dan menunÂtasÂkan potensi konflik,â ujar RoÂsitah.
Ia menjelaskan, banyak konflik di Maluku muncul akibat persoalan hukum yang belum tuntas sehingga menimbulkan ketidakpuasan dan memicu masalah baru.
Karena itu, pihaknya terus memÂperkuat kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat untuk menjaga situasi kamtibmas yang kondusif.
Rositah juga menyinggung program âBaileo Maniseâ yang digagas Polda Maluku. Program ini menjadi wadah perdamaian yang melibatkan tokoh agama, masyarakat, dan pemuda sebagai mediator dalam penyelesaian konflik.
âKapolda selalu mengingatkan agar semangat hidup orang basuÂdara terus dirawat. Nilai ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga untuk mewujudkan Maluku manise yang damai dan sejahtera,â tuturnya.
Ia menghimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap inforÂmasi yang beredar di media sosial dan tidak menyelesaikan persoalan dengan kekerasan.
âSiapa pun yang bermasalah haÂrus berani bertanggung jawab tanpa melibatkan pihak lain,â tegasnya.
Sementara itu, Hasbollah Toisuta menilai konflik sosial kerap dipicu perebutan sumber daya, gagalnya relasi sosial, serta perbedaan identiÂtas suku dan agama.
Menurutnya, kearifan lokal harus dimanfaatkan sebagai instrumen perdamaian.
âLeluhur kita sudah menanamkan nilai-nilai budaya untuk mencegah konflik. Di UIN Ambon, kami meÂngembangkan program pela pendiÂdikan, mengikat hubungan persauÂdaraan antar sekolah yang berbeda latar belakang agama sebagai benÂtuk rekayasa sosial menuju perdaÂmaian,â kata Hasbollah.
Sosiolog Maluku, Paulus KoriÂtelu, menyoroti aspek kebijakan yang turut memicu potensi konflik.
Ia menilai, penyamarataan status desa adat dan non-adat dalam undang-undang menyebabkan masÂyarakat kehilangan akar budaya.
âRaja di suatu negeri biasanya berasal dari garis keturunan tertentu. Namun kini, siapapun bisa diangkat dan ini menjadi potensi konflik yang perlu diantisipasi,â ujarnya.
Paulus menambahkan, generasi muda menjadi kelompok paling rentan terhadap gesekan sosial.
âKonflik dan damai ibarat dua sisi mata uang. Kita harus membimbing generasi muda agar mampu mengeÂlola konflik dengan baik demi Maluku yang aman dan damai,â katanya.
Dari sisi Pemerintah Provinsi MaÂluku yang diwakili Kabid KewasÂpadaan Nasional Kesbangpol Farit Hatala menekankan pentingnya sinergi antar lembaga.
Ia mengajak seluruh elemen masÂyarakat untuk memperkuat koordiÂnasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan tokoh masÂyarakat.
âSinergitas antara pembuat kebiÂjakan dan penegak hukum sangat penting dalam pencegahan serta penaÂnganan konflik. Tantangan yang kita hadapi hari ini justru menÂjadi momentum untuk memperkuat kerja sama lintas sektor,â ujarnya.(S-25)