AMBON, Siwalima.id - Walikota Ambon, Bodewin Wattimena mengajak warga gereja untuk bersama pemerintah membangun Kota Ambon.
Menurutnya, gereja dan pemerintah merupakan mitra yang saling mendukung dalam membangun masyarakat Kota Ambon.
“Kita adalah mitra yang saling mendukung dan memastikan semua yang kita lakukan berdampak bagi umat yang juga adalah warga Kota Ambon,” kata walikota saat pembukaan Sidang ke-50 Klasis Kota Ambon di Gereja Joseph Kam Jemaat GPM Bethel Belakang Soya, Minggu (8/3).
Untuk itu kata walikota, Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Provinsi Maluku juga mengajak Gereja Protestan Maluku khususnya Klasis Kota Ambon, untuk terus memperkuat peran sosial, moral dan spiritual dalam mendukung pembangunan masyarakat di daerah ini.
Ia mengaku persidangan gereja sebagai ruang strategis untuk membangun kolaborasi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.
“Pemerintah kota memandang persidangan pada berbagai tingkatan di GPN sebagai sarana penting dan strategis untuk gereja menggumuli proses pelayanan, tetapi juga menggumuli apa yang menjadi pergumulan pemerintah,” kata walikota.
Walikota juga menyoroti sejumlah persoalan sosial yang perlu menjadi perhatian bersama, seperti masalah sampah, pengangguran, pembinaan generasi muda, hingga meningkatnya kasus HIV di Kota Ambon.
Ia menekankan penyelesaian berbagai persoalan tersebut membutuhkan kesadaran dan dukungan seluruh masyarakat.
“Sampah misalnya, pemerintah terus meningkatkan sarana dan prasarana, tetapi tanpa kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat dan waktunya, persoalan ini tidak akan selesai,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Orang nomor satu di Kota Ambon juga turut mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan keharmonisan kehidupan masyarakat.
“Hal-hal seperti konflik di luar negeri tidak boleh mempengaruhi kehidupan kita di Ambon. Tugas kita di sini adalah menjaga persaudaraan dan kedamaian,” tegasnya.
Sementara itu, sambutan gubernur yang dibacakan Asisten III Setda Maluku Dominggus Kaya menyampaikan apresiasi kepada GPM yang dinilai konsisten menjalankan panggilan gereja sekaligus mengambil peran dalam pembangunan masyarakat Maluku.
“Kepada GPM, khususnya Klasis Kota Ambon, kami memberikan apresiasi atas konsistensi dalam menjalankan panggilan gereja sekaligus mengambil perannya dalam pembangunan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, gereja tidak hanya berfungsi sebagai lembaga rohani, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral, sosial, dan kultural dalam menjaga nilai persaudaraan dan kedamaian di tengah masyarakat Maluku yang majemuk.
Selain itu, pemerintah provinsi berharap gereja dapat terus berperan dalam pembangunan manusia Maluku yang berintegritas, berpendidikan, serta memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat dan daerah.
Ia berharap sidang klasis GPM Kota Ambon dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang tidak hanya memperkuat pelayanan gereja, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat Maluku.
Sementara itu, Ketua Klasis Kota Ambon, Pendeta Rinto Muskita, menegaskan persidangan gereja bukan sekadar agenda organisasi yang diatur dalam tata gereja, tetapi panggilan untuk melaksanakan misi Allah. “Di dalamnya ada harapan, tanggung jawab dan panggilan yang terus diperbarui,” ujar Muskita dalam sambutannya.
Menurutnya, para peserta sidang tidak hanya berkumpul untuk menanggapi laporan pelayanan, menyusun program maupun merancang anggaran, tetapi juga membawa tanggung jawab terhadap pertumbuhan iman dan kehidupan umat yang dilayani.
Ia mengakui, gereja saat ini diperhadapkan dengan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks di tengah masyarakat, mulai dari krisis keluarga, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga hingga persoalan ekonomi umat.
Karena itu, ia menilai gereja perlu memperkuat pelayanan pastoral yang menyentuh langsung kehidupan keluarga dan generasi muda.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Semua itu adalah kenyataan yang harus dihadapi dan menjadi tanggung jawab pelayanan gereja,” katanya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya integritas para pelayan gereja dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang ini umat tidak hanya mendengar khotbah kita, tetapi juga membaca kehidupan kita. Karena itu ketekunan dalam kasih Allah harus terlihat dalam sikap hidup dan etika pelayanan kita,” ujarnya.(S-26)