SIWALIMA.id > Berita
Walikota Minta Dukungan Gereja Bangun Ambon
Daerah | Senin, 9 Maret 2026 pukul 14:42 WIT

AMBON, Siwalima.id - Walikota Ambon, Bodewin Wattimena mengajak warga gereja untuk bersama pemerintah membangun Kota Ambon.

Menurutnya, gereja dan peme­rintah merupakan mitra yang saling mendukung dalam membangun masyarakat Kota Ambon.

“Kita adalah mitra yang saling mendukung dan memastikan semua yang kita lakukan berdampak bagi umat yang juga adalah warga Kota Ambon,” kata walikota saat pembu­kaan Sidang ke-50 Klasis Kota Ambon di Gereja Joseph Kam Jemaat GPM Bethel Belakang Soya, Minggu (8/3).

Untuk itu kata walikota, Peme­rintah Kota Ambon dan Pemerintah Provinsi Maluku juga mengajak Gereja Protestan Maluku khusus­nya Klasis Kota Ambon, untuk terus memperkuat peran sosial, moral dan spiritual dalam mendukung pemba­ngunan masyarakat di daerah ini.

Ia mengaku persidangan gereja sebagai ruang strategis untuk mem­bangun kolaborasi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.

“Pemerintah kota memandang persidangan pada berbagai tingka­tan di GPN sebagai sarana penting dan strategis untuk gereja menggu­muli proses pelayanan, tetapi juga menggumuli apa yang menjadi per­gumulan pemerintah,” kata walikota.

Walikota juga menyoroti sejumlah persoalan sosial yang perlu menjadi perhatian bersama, seperti masalah sampah, pengangguran, pembinaan generasi muda, hingga meningkat­nya kasus HIV di Kota Ambon.

Ia menekankan penyelesaian ber­bagai persoalan tersebut membu­tuhkan kesadaran dan dukungan seluruh masyarakat.

“Sampah misalnya, pemerintah terus meningkatkan sarana dan prasarana, tetapi tanpa kesadaran masyarakat untuk membuang sam­pah pada tempat dan waktunya, persoalan ini tidak akan selesai,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga men­dorong penguatan ekonomi masya­rakat melalui pengembangan UMKM serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Orang nomor satu di Kota Ambon  juga turut mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan dan keharmo­nisan kehidupan masyarakat.

“Hal-hal seperti konflik di luar negeri tidak boleh mempengaruhi kehidupan kita di Ambon. Tugas kita di sini adalah menjaga persaudaraan dan kedamaian,” tegasnya.

Sementara itu, sambutan guber­nur yang dibacakan Asisten III Setda Maluku Dominggus Kaya menyampaikan apresiasi kepada GPM yang dinilai konsisten men­jalankan panggilan gereja sekaligus mengambil peran dalam pemba­ngunan masyarakat Maluku.

“Kepada GPM, khususnya Klasis Kota Ambon, kami memberikan apresiasi atas konsistensi dalam men­jalankan panggilan gereja sekaligus mengambil perannya dalam pemba­ngunan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, gereja tidak hanya berfungsi sebagai lembaga rohani, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai kekuatan moral, sosial, dan kultural dalam menjaga nilai per­saudaraan dan kedamaian di tengah masyarakat Maluku yang majemuk.

Selain itu, pemerintah provinsi berharap gereja dapat terus berpe­ran dalam pembangunan manusia Maluku yang berintegritas, berpen­didikan, serta memiliki semangat pengabdian kepada masyarakat dan daerah.

Ia berharap sidang klasis GPM Kota Ambon dapat menghasilkan ke­putusan-keputusan yang tidak hanya memperkuat pelayanan gereja, tetapi juga memberi kontri­busi nyata bagi pembangunan masyarakat Maluku.

Sementara itu, Ketua Klasis Kota Ambon, Pendeta Rinto Muskita, me­ne­gaskan persidangan gereja bukan sekadar agenda organisasi yang diatur dalam tata gereja, tetapi panggilan un­tuk melaksanakan misi Allah. “Di dalamnya ada harapan, tanggung jawab dan panggilan yang terus diperbarui,” ujar Muskita dalam sambutannya.

Menurutnya, para peserta sidang tidak hanya berkumpul untuk mena­nggapi laporan pelayanan, menyu­sun program maupun merancang angga­ran, tetapi juga membawa tanggung jawab terhadap pertumbuhan iman dan kehidupan umat yang dilayani.

Ia mengakui, gereja saat ini diper­hadapkan dengan berbagai persoa­lan sosial yang semakin kompleks di tengah masyarakat, mulai dari krisis keluarga, perceraian, kekera­san dalam rumah tangga hingga persoalan ekonomi umat.

Karena itu, ia menilai gereja perlu memperkuat pelayanan pastoral yang menyentuh langsung kehidu­pan keluarga dan generasi muda.

“Kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Semua itu adalah kenyataan yang harus dihadapi dan menjadi tanggung jawab pelayanan gereja,” katanya.

Selain itu, ia  juga menekankan pentingnya integritas para pelayan gereja dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekarang ini umat tidak hanya mendengar khotbah kita, tetapi juga membaca kehidupan kita. Karena itu ketekunan dalam kasih Allah harus terlihat dalam sikap hidup dan etika pelayanan kita,” ujarnya.(S-26)

BERITA TERKAIT