AMBON, Siwalima.id - Walikota Ambon, Bodewin Wattimena menegaskan, pengakuan Ambon sebagai kota musik dunia oleh UNESCO, bukan sekadar penghargaan simbolik, melainkan amanat besar yang harus dijaga melalui pelestarian budaya dan pengembangan ekosistem musik yang berkelanjutan.
“Jukulele bukan hanya sekadar alat musik, melainkan bagian dari perjalanan sejarah, kekuatan budaya, serta representasi harmoni sosial masyarakat Ambon. Bagi generasi muda terdahulu, Jukulele menjadi medium kebersamaan dan sarana menyampaikan cerita kehidupan,” tulis walikota dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Walikota Ambon, Ely Toisuta saat membuka Festival Senandung Jukulele yang digelar di Taman Kebudayaan Karang Panjang, Selasa (12/5) malam.
Pelestarian Jukulele saat ini menurut walikota, bukan hanya soal mempertahankan bunyi dan instrumen, tetapi juga membangun ruang kolaborasi serta mempromosikannya secara modern tanpa kehilangan nilai-nilai akar budayanya.
Menurutnya, di era saat ini promosi budaya harus dilakukan secara inovatif. Jukulele dinilai memiliki potensi besar untuk diperkenalkan lebih luas melalui platform digital, pertunjukan kreatif, pariwisata budaya, hingga kerja sama lintas daerah dan internasional.
“Dengan demikian, warisan budaya ini tidak hanya bertahan di ruang lokal, tetapi juga mampu tampil di panggung dunia,” tandas walikota.
Walikota juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Sanggar Amsambel Musik Benteng selaku penyelenggara, serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi menjadikan festival tersebut sebagai ruang ekspresi budaya yang kreatif dan inklusif.
Festival Senandung Jukulele ini diharapkan dapat menjadi agenda budaya tahunan yang terus berkembang, guna memperkuat posisi Ambon sebagai Kota Musik Dunia.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menggagas kegiatan ini. Semoga acara ini berjalan dengan sukses,” harapw alikota.
Untuk diketahui kegiatan tersebut, turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku, serta Direktur Ambon City of Music.(S-30)