SIWALIMA.id > Berita
Hilirisasi Sagu Masuk RKP 2027
Daerah | Selasa, 24 Februari 2026 pukul 15:21 WIT

AMBON, Siwalima.id - Program hilirisasi sagu yang gencar dilakukan Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur diharapkan bisa masuk dalam rencana kerja pemerintah di tahun 2027 mendatang.

Hal ini berdasarkan surat rekomendasi Kementerian Dalam Negeri kepada Bappenas, yang meminta agar program hilirisasi sagu yang diusulkan dapat diakomodir dalam RKP 2027.

Kepala Dinas Pertanian Maluku, Ilham Tauda menyebut dalam RPJMN, memang program hilirisasi sagu di Maluku belum masuk PSN.

Namun lanjutnya dengan perjuangan gubernur dan Bupati SBT, telah menemukan titik terang. Kemendagri telah merekomendasikan kepada Bappenas untuk mengakomodir.

Program hilirisasi sagu Maluku sebagai salah satu PSN dalam SKP tahun 2027. Kita harap dapat direalisasikan," jelasnya kepada Siwalima  melalui telepon selulernya, Senin (23/2).

Menurutnya, 97 persen populasi sagu, berada di Kabupaten SBT. Di tahun tahun 2026 ini ada dukungan dari APBN baik perluasan maupun rehabilitasi.

Jumlahnya mencapai 600 hektar di Kabupaten SBT, disamping beberapa dukungan program terutama menyangkut penataan pengembangan sagu.

Dijelaskan Pemda ingin mengedukasi masyarakat dengan sistem budidaya yang baik pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal terutama dari pengolahan pasca panen akan dapat menghasilkan tepung sagu yang berkualitas.

Kenapa ini penting lanjutnya, karena selama ini pengolahan pasca panen itu masih dilakukan secara tradisional.

Dalam rangka mendukung hilirisasi, sudah saatnya dilakukan perubahan terutama bagaimana pengolahan pangan dengan sistem yang modern agar dapat meningkatkan nilai tambah.

Ia mengaku pemkab telah menetapkan cikal bakal hilirisasi sagu, namun harus ada diskresi dari Kementerian Pertanian untuk dapat melihat pengembangan hilirisasi sagu di SBT.

Lebih lanjut Tauda mengatakan Pemda memang mengharapkan turunan dari produk sagu bukan saja untuk Papeda tetapi dikembangkan sampai dengan mengubah sebagai beras alternatif.

Pihaknya juga mengaku pernah mengunjungi beberapa industri pengolahan sagu di Tangerang. Disana mereka sudah berhasil mengembangkan beras sagu atau semacam beras analog yang bahan bakunya diambil dari Papua.

“Kita punya potensi apalagi kebutuhan beras kita masih defisit maka kita bisa mendorong sagu untuk menjadi alternatif pendukung khususnya sebagai beras analog untuk dikonsumsi masyarakat," janjinya.(S-20)

BERITA TERKAIT