SIWALIMA.id > Berita
Kesepian Akademik di Era AI
Opini | Rabu, 24 Juni 2026 pukul 13:28 WIT

SEORANG mahasiswa tingkat akhir buntu meng­garap skripsi pada tengah malam. Tidak ada pesan untuk pembimbing atau teman sekamar. Yang terbuka justru aplikasi akal imitasi (AI). Mahasiswa itu mengetik keluhan, lalu merasa didengar untuk sesaat. Adegan itu bukan fiksi dan terjadi di hampir setiap kampus di Indonesia.

Selama ini perdebatan tentang AI di kampus berkutat pada kecurangan akademik, plagiarisme, dan autentisitas karya mahasiswa. Padahal, ada persoalan yang lebih dalam dan nyaris luput: apa yang terjadi pada jiwa mahasiswa ketika mesin menggantikan manusia dalam urusan paling manusiawi, yakni kebutuhan untuk dimengerti, bercerita, dan merasa tidak sendirian.

KESEPIAN DIGITAL

Riset terbaru menunjukkan AI gagal menyem­buhkan kesepian. Constance Noonan Hadley dari Boston University dan Sarah Wright dari University of Canterbury pada tahun ini meneliti lebih dari 1.500 pekerja berbasis pengetahuan di Amerika Serikat.

Tiga perempat responden memakai AI melampaui urusan teknis, bahkan menganggapnya 'teman kerja'. Meski AI tersedia 24 jam dan tak pernah meng­hakimi, lebih dari separuh responden tetap kesepian. Hanya satu dari delapan orang merasa lebih ringan setelah berbicara dengan AI.

Temuan dari ruang kuliah lebih mengkhawatir­kan. Joseph Crawford dan koleganya di Monash Uni­versity menemukan mahasiswa yang me­nyan­dar­kan dukungan emosional pada AI justru lebih ke­sepian, berprestasi lebih rendah, dan lebih ren­tan berhenti kuliah jika dibandingkan dengan me­reka yang tetap bersandar pada sesama manusia.

Paradoksnya menusuk. Semakin sering maha­sis­wa 'berbicara' dengan AI, semakin dalam rasa sepi yang sesungguhnya. Yang paling gencar men­cari dukungan dari AI ternyata mereka yang sudah paling kesepian sejak awal. AI bukan obat kese­pian, melainkan tempat pelarian bagi yang telanjur merasa tidak terhubung.

Daya tarik AI mudah dipahami. Bagi mahasiswa yang malu bertanya di kelas atau cemas pada ma­lam hari, AI terasa seperti jawaban. Namun, mesin tidak benar-benar mengenal seseorang dan tidak bisa memberi tatapan yang berkata 'kamu tidak sendirian'.

Para peneliti menyebut gejala itu hubungan para­sosial, yakni relasi satu arah yang terasa nyata, tetapi kosong pada sisi seberang, persis seperti penonton yang merasa 'berteman' dengan tokoh serial televisi. Perasaan itu nyata, tetapi tidak tim­bal balik, dan tidak sanggup memenuhi kebutuhan paling mendasar manusia: pengakuan dari sesama yang sama-sama rentan dan tidak sempurna.

OTOT SOSIAL YANG MENGEMPIS

Universitas bukan perpustakaan, bukan pula mesin pencetak gelar. Universitas ialah komunitas hidup yang tumbuh dari percakapan di selasar, debat di kantin, mentoring di balik pintu setengah terbuka, dan solidaritas diam-diam antarsesama yang berjuang.

Di IPB University, kami menyaksikan sendiri bagaimana fenomena itu bergerak diam-diam. Mahasiswa yang rajin bertanya kepada AI hingga larut malam, tetapi membisu ketika dosen mem­buka sesi tanya jawab. Tugas yang dikumpulkan terasa rapi dan hampir sempurna, tetapi penulisnya tergagap saat ditanya.

Bukan karena mereka tidak mau tumbuh, justru sebaliknya. Mereka ingin berhasil, tetapi mencari ja­lan termudah untuk merasa aman, dan AI me­nawarkan rasa aman itu tanpa risiko dihakimi. Itulah yang membuat persoalan tersebut tidak kasat­mata hing­ga tiba-tiba menjadi jarak yang sulit dijem­batani.

Keterampilan sosial bekerja seperti otot: me­nguat ketika dilatih dan melemah ketika dibiarkan. Ketika mahasiswa terbiasa membawa kebutuhan emosional kepada AI alih-alih kepada manusia, ada yang perlahan mengempis, yaitu kemampuan membaca isyarat, membangun kepercayaan, dan hadir sepenuhnya di hadapan orang lain.

Persoalan itu tidak berhenti pada mahasiswa. Dosen pun mulai menyerahkan urusan paling ma­nusiawi kepada AI: dari umpan balik tugas hingga surat rekomendasi. Padahal, hal kecil itulah yang paling membekas: tatapan menguatkan saat ma­hasiswa ragu, raut bahagia saat mereka berhasil, dan bimbingan yang benar-benar hadir, bukan sekadar balasan dari kejauhan.

Ketika dosen kehilangan refleks kemanusiaan, universitas kehilangan keteladanan. Padahal, keteladanan justru mendidik jauh melampaui isi kurikulum mana pun.

LIMA LANGKAH UNIVERSITAS

Solusinya bukan melarang AI. Larangan sema­cam itu naif sekaligus kontraproduktif, seperti me­la­rang kalkulator pada era aljabar. Yang dibutuhkan ialah kebijakan yang tidak sekadar menjaga kejujuran akademik, tetapi juga melindungi kualitas hubungan antarmanusia. Lima langkah berikut bisa diambil universitas sekarang.

Pertama, ukur hal yang selama ini luput diukur. Uni­versitas sudah lama mengukur IPK dan tingkat kelulusan, tetapi kualitas hubungan mahasiswa dengan dosen pembimbing pun layak diukur berkala. Yang tidak diukur tidak akan pernah terkelola.

Kedua, tetapkan batas tegas antara wilayah AI dan wilayah manusia. Bimbingan aka­demik, kon­seling, dan mentoring karier harus tetap menjadi jantung hubungan manusia. Cecilia Chan dari University of Hong Kong menyarankan pembagian zona bebas AI, zona berbantuan AI, dan zona wajib manusia, yang dapat dise­suaikan dengan konteks Indonesia.

Ketiga, arahkan waktu yang dihemat AI untuk perjumpaan manusia. Waktu yang dihemat dari pekerjaan teknis se­harusnya kembali ke interaksi bermakna, bukan men­jadi beban kerja tambahan. Diskusi kelompok kecil dan mentoring personal bukanlah pelengkap, melainkan inti pengalaman kampus.

Keempat, latih dosen mengenali maha­siswa yang bersembunyi di balik AI. Ketika seorang mahasiswa tidak pernah datang bimbingan, tidak pernah bertanya, selalu mengirim tugas tetapi tidak pernah berdialog, itu bisa jadi sinyal. Mahasiswa itu tengah membangun benteng dan AI menjadi salah satu batu batanya. Dosen yang terlatih dapat menjangkau se­belum jarak terlalu jauh.

Kelima, susun kebijakan AI secara bersama, bukan dari atas ke bawah. Mahasiswa perlu dilibatkan dalam merumuskan aturannya sendiri. Kebijakan yang dirasakan sebagai milik bersama jauh lebih efektif daripada regulasi yang terasa seperti pembatasan.

MEMORI YANG BERTAHAN

Satu pertanyaan sering saya ajukan kepada diri sendiri sebagai pemimpin universitas: apa yang kelak diingat mahasiswa tentang masa kuliahnya? Jawabannya bukan secanggih apa AI yang pernah dipakai, melainkan perca­ka­pan jujur dengan dosen yang benar-benar mendengar, teman yang menemani begadang saat krisis, dan mentor yang melihat potensi mereka, bahkan ketika mereka meragukan diri sendiri.

Universitas hebat bukan yang paling cepat mengadopsi tek­nologi terbaru, melainkan yang mampu menjaga dirinya tetap menjadi tempat manusia bertum­buh melalui perjumpaan dengan manusia lain. Teknologi boleh berganti setiap tahun, tetapi kebutuhan manusia untuk diakui, didengar, dan dipercaya tidak pernah berubah sejak guru per­tama berjalan bersama muridnya.

Tugas kita bukan memilih an­tara AI dan manusia. Tugas kita me­mastikan AI hadir untuk me­layani kemanusiaan, bukan meng­gantikannya, sehingga kam­pus tetap menjadi salah satu tem­pat paling manusiawi di dunia.Oleh: Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University.(*)

BERITA TERKAIT