DI TENGAH tantangan geografis berupa ribuan pulau yang tersebar, suara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menggema, memberikan secercah harapan bagi masyarakat Maluku. Saat kunjungan kerjanya ke Ambon, Wapres meminta PLN untuk mengakselerasi layanan listrik 24 jam di seluruh desa di Maluku. Permintaan ini bukan sekadar instruksi, melainkan refleksi dari potret ketimpangan yang selama ini membayangi wilayah kepulauan, di mana banyak desa masih hidup dalam kegelapan malam.
Selama bertahun-tahun, masyarakat di Maluku, khususnya yang berada di pulau-pulau terpencil, hidup dengan keterbatasan listrik. Beberapa desa hanya menikmati listrik selama beberapa jam, bahkan ada yang belum teraliri sama sekali. Kondisi ini menghambat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Para siswa kesulitan belajar di malam hari, usaha kecil terhambat, dan kualitas hidup masyarakat tak dapat maksimal.
Wapres Gibran, dalam kunjungannya, meninjau langsung Barge Mounted Power Plant (BMPP) atau Pembangkit Listrik Terapung Nusantara 1 di Ambon. Pembangkit terapung ini merupakan solusi inovatif untuk mengatasi kesulitan pasokan listrik di wilayah kepulauan. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya memberikan instruksi, tetapi juga mencari solusi konkret di lapangan.
Menanggapi permintaan Wapres, PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) bergerak cepat. Sejak awal tahun 2025, berbagai program percepatan telah diluncurkan. Salah satunya adalah pengoperasian puluhan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang kini beroperasi 24 jam di sejumlah desa. PLN juga berhasil mewujudkan listrik 24 jam di beberapa pulau terpencil seperti Pulau Sjahrir, Pulau Ay, dan Pulau Rhun, yang tersebar di wilayah Maluku Tengah.
Pada Desember 2024, PLN sukses menghadirkan listrik 24 jam di delapan lokasi yang tersebar di beberapa kabupaten, termasuk Seram Bagian Barat, Maluku Tengah, dan Maluku Tenggara. Keberhasilan ini dilanjutkan dengan pencapaian yang lebih luas, seperti peresmian listrik 24 jam di sejumlah desa pelosok pada September 2025, yang disambut antusias oleh masyarakat.
Kehadiran listrik 24 jam telah membawa perubahan signifikan. Di sektor pendidikan, ratusan siswa di Maluku Utara kini dapat merasakan digitalisasi pendidikan berkat listrik yang stabil. Sebelumnya, akses internet dan perangkat elektronik seringkali terkendala oleh pasokan listrik yang tidak menentu.
Secara ekonomi, nyala listrik sepanjang hari memicu geliat usaha lokal. Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, mengapresiasi upaya ini dan menyebutkan bahwa pasokan listrik yang stabil akan mendorong pengembangan bisnis seperti usaha penginapan (homestay), restoran, dan usaha kreatif lainnya. Listrik juga menjadi kunci untuk mengolah sektor-sektor unggulan di daerah, seperti perikanan dan pertanian, sehingga produk-produk lokal dapat memiliki nilai tambah.
Meskipun banyak kemajuan, perjalanan menuju pemerataan listrik 100% di Maluku masih panjang. Tantangan geografis yang terfragmentasi menjadi ribuan pulau tetap menjadi hambatan utama. Namun, kolaborasi antara pemerintah daerah, PLN, dan masyarakat menunjukkan bahwa kendala ini dapat diatasi secara bertahap.
Inisiatif seperti pembangkit terapung dan pemanfaatan energi terbarukan seperti panas bumi, yang didorong oleh Menteri ESDM, menjadi strategi untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan adanya komitmen dari pemerintah pusat dan respons cepat dari PLN, masyarakat Maluku kini bisa lebih optimistis bahwa cahaya terang akan segera menerangi setiap sudut kepulauan, membawa harapan baru untuk masa depan yang lebih baik. (*)